Tritunggal

sharing

Dari orang yang saya wawancarai semuanya orang katolik dan rata-rata sudah lama di babtis menjadi katolik. Saat wawancara mereka menceritakan pengalaman itu pada saya terutama pengalaman mereka kepada Tritunggal. Mereka menjawab pertanyaan saya dengan spontan bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan. Mereka melihat bahwa tritunggal itu bukan sesuatu hal yang mudah untuk dipahami. Dan bukanlah tiga hal yang terpisah atau tiga pribadi yang tidak berkaitan satu dengan yang lain. Bahkan mereka juga mengatakan Tritunggal itu bagi kaum awam sebagian besar kurang mengerti, memahami, apalagi menjelaskannya kepada orang lain tapi mereka tetap percaya sehingga mereka mempunyai iman akan Kristus.

Ketika saya menanyakan mana yang paling berpengaruh bagi hidup mereka tidak ada satu pun yang menyebut satu saja diantara ketiga pribadi itu. Mereka selalu mengatakan saya tidak bisa memilih salah satu diantara ketiganya karena tiga pribadi itu saling berelasi satu sama lain, Yesus diutus oleh Bapa karena cinta dan kasihnya kepada kita sebagai manusia, dan Roh Kudus itulah yang bekerja dalam karya-karya Yesus. Pendapat ini mengagetkan saya karena tanpa diduga ada orang yang bisa melihatnya lewat relasi, kasih dan cinta. Pendapat ini sama halnya dengan pendapat ”Rahner” yang mengatakan bahwa dalam Tritunggal itu sendiri ada mode, konsep (pribadi yang relasional), dan kasih (relasi). Karena kasih terjalin sebuah relasi yang baik. Sehingga Rahner berani mengatakan bahwa trinitarian tertinggi adalah kasih.

Berbicara tentang Tritunggal orang pada umumnya tidak bisa menjelaskannya secara detail. Penyebabnya karena kurang berpengetahuan atau mungkin juga karena tidak mempunyai pengalaman kepada Tritunggal. Orang yang mempunyai ilmu pengetahuan luas sekalipun masih kurang menjelaskannya kepada orang lain secara mendetail. Seseorang mungkin bisa menjelaskannya tapi hanya sebatas rasio saja. Sehingga Rahmer mengatakan Allah itu jangan dipikirkan secara rasional meluluh tapi marilah kita melihatnya sebagai kasih. Dan lebih parah lagi kalau seorang imam tidak bisa menjelaskan Tritunggal kepada umat. Dan efeknya, umat juga tidak bisa menjelaskannya kepada keluarganya.

Kalau ditanya, jawaban yang muncul adalah Tritunggal itu misterius (tidak bisa dijelaskan). Begitu juga yang saya alami ketika wawancara dengan seorang ibu jawabannya ”misterius” sulit untuk mengatakannya lewat kata-kata. Dan sebagai pendukung jawabannya dia memberi sebuah ilustrasi mengenai Agustinus yang sedang memutar otaknya untuk memikirkan Tritunggal, tanpa diduga ia bertemu seorang anak kecil yang sedang menggali lubang kecil di tepi pantai, Ketika Agustinus bertanya, apa yang sedang kamu lakukan anakku? anak itu menjawab: saya memindahkan air laut ini kedalam lubang kecil ini.

Hingga saat ini ajaran tentang Trinitas masih merupakan soal yang terus menerus dipersoalkan. Ini terjadi bukan saja diantara para teolog, gereja, tetapi juga terjadi dalam realitas kehidupan kemasyarakatan yang majemuk. Dan Trinitas itu hingga kini masih merupakan-misteri-iman. Menurut sejarahnya mulai dari jaman Bapa Gereja hingga situasi saat ini terdapat berbagai bentuk permainan dan perumusan kata yang dilakukan sebagai upaya perumusan konsepsi itu, sebagai suatu ajaran baku, tetapi kenyataannya tiap teolog besar yang datang dan pergi silih berganti belum mampu meninggalkan sebuah ajaran trinitas yang baku. Berbagai metode dan pendekatan yang ditawarkan, bagi kebutuhan teologi di masa itu dapat berguna, tetapi bagi masa kini maupun yang akan datang-tentu-tidaklah-sama-cara-pandangnya.

Untuk memuliakan Tuhan yang paling baik adalah mewartakan kasih Allah kepada orang lain, menyatakan namaNya, mewartakan kerahiman-Nya kepada dunia. Seluruh hidup kita harus diarahkan untuk memuliakan Allah. Oleh rahmat Tuhan kita diselamatkan dan juga kita diberi bagian di dalam karya penyelamatan. Itulah yang disebut imamat orang beriman, kita dapat mengambil bagian dalam karya Kristus bagi keselamatan dunia. Jika kita harus menanggung salib dan penderitaan, kita dapat mempersembahkannya untuk keselamatan banyak jiwa.

Karena Allah begitu mengasihi kita maka Dia mau menjadi manusia, dan di antara ketiga pribadi yang dapat menjadi manusia hanyalah Putera, tidak mungkin Roh Kudus atau Bapa yang menjelma menjadi manusia. Karena itu Santo Paulus mengatakan bahwa kita ini dijadikan anak-anak Allah di dalam Sang Putera oleh kuasa Roh Kudus. Jadi selalu setiap perbuatan ilahi adalah perbuatan Bapa, Putera dan Roh Kudus. Oleh karena itu karya keselamatan adalah karya Tritunggal Mahakudus, tetapi ada semacam apropriasi yaitu dikatakan bahwa Putera yang menebus manusia sebetulnya ialah Allah sendiri, tetapi ada apropriasi yang seolah-olah itu bagian Putera, ini bagian Roh Kudus, dan semua menuju kembali kepada Bapa sumber segala sesuatu.

Begitu luhur dan indah rahmat kehidupan kita. Oleh karena itu, jika menyadari semua ini kita juga dengan rela mau menanggung beban-beban dalam hidup ini. Kalau semua kita tanggung bersama Kristus, betapapun beratnya beban itu maka akan menjadi ringan. Oleh karena itu, kita mau menyerahkan semua bersama dengan Kristus, karenanya semua beban kalau kita terima dengan rela hati dan kita persembahkan, ini sebetulnya yang disebut kebijaksanaan para kudus.

Mempersembahkan semua beban dan penderitaan kepada Tuhan demi keselamatan jiwa-jiwa. Ini mempunyai dua keuntungan. Dengan kurban-kurban yang kelihatannya tidak berarti kita bisa menyelamatkan orang lain. Kedua jika kita bisa mempersembahkan beban-beban dan kesukaran kepada Tuhan, maka kita tidak akan merasakan beban itu dan bahkan yang dulunya menekan justru akan menimbulkan sukacita kalau kita persembahkan kepada Tuhan. Kalau kita mengeluh maka bebannya menjadi semakin berat, tetapi apabila beban berat itu dipersembahkan akan menjadi ringan. Jadi karena itu baiklah kita selalu hidup di dalam iman. Iman mampu melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh akal budi biasa.

Hasil wawancara Tritunggal oleh Wilhelmus Famati hia

Umur Lama babtis Jenis kelamin Agama
53 thn 43 thn Laki-laki Katolik
52 thn 25 thn Perempuan Katolik
56 thn 48 thn Laki-laki Katolik
60 thn 50 thn Laki-laki Katolik
58 thn 47 thn Perempuan Katolik
50 thn 33 thn Perempuan Katolik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s