KEBENARAN DALAM PENGHAYATAN

Filsafat

Kebenaran dan Penghayatan

Dalam “fenomenologi pengetahuan”, kita membiarkan diri kenyataan menyatakan diri. Pengetahuan indrawi dan rohani berbeda, namun tidak pernah terpisah. Pengetahuan sampai pada puncaknya yakni keputusan. Keputusan bisa benar, bisa salah. Dalam diri manusia, ada hasrat untuk menuju kebenaran. Apakah pengetahuan disebut benar? Kecuali kalau sesuai dengan kenyataan. Salah satu yang muncul dalam fenomenologi pengetahuan di atas ialah perbedaan di antara penghayatan dan pengetahuan ilmiah. Dalam penghayatan, seluruh eksistensi ikut berperan, sedangkan dalam ilmu ratio lebih dominan. Manusia melihat dengan hati. Melihat dengan hati tidak sama dengan ”irasional”. Pascal mengatakan bahwa hati has its reasons (punyai akal-akalnya) yang tidak diketahui oleh reason (ratio). Akan tetapi, penghayatan bukan ilmu. Bagaimana hubungan hati dan akal? Ada pertentangan antara pengetahuan yang bersifat ilmiah. Masalahnya sekarang adalah apa yang membuat kita sampai pada kebenaran.

Hidup dan Rasio

Kata”penghayatan” secara etimologis berhubungan dengan ”hayat”. Pertentangan yang sering muncul adalah pertentangan antara hidup dan ilmu. Filsafat terlalu jauh dari ”hidup” akan menjadi filsafat yang mengambang dan tidak mendarat. Filsafat menjadi permainan kata-kata dengan pengertian yang kosong dan tidak kena di hati. Dalam hal ini ada dua ekstrem yang harus dihindari.

Kadang-kadang muncul pendapat yang mendevaluasi ilmu. Pascal misalnya menolak ”Allah kaum filsuf” dan memilih ”Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Hal ini merupakan reaksi terhadap filsafat yang terlalu jauh dari penghayatan. Dalam filsafat dan teologi pun argumentasi ilmiah dan rasional sebagai jalan menuju kebenaran kadang-kadang lebih diutamakan daripada pengalaman hidup. Filsafat atau teologi seperti itu tidak menyentuh hati. Pertentangan antara penghayatan dan ilmu kadang terungkap dalam pertanyaan yang menantang. ”Siapakah yang lebih tahu tentang Allah: orang yang menghayati Allah dalam hidup doa dan pengalaman hidup ataukah seorang filsuf yang mengetahui segala argumen untuk membuktikan keberadaan Allah? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang selalu mencari bukti sesuatu serta mengukurnya. Misalnya untuk mencari tahu apa itu air, jangan mencarinya dalam ilmu kimia yang merumuskan air adalah H2O. Tapi terjunlah kedalam danau. Dan masih banyak contoh lainnya. Jadi ilmu dan penghayatan sama sekali tidak bertentangan namun saling membutuhkan antara keduanya, saling memperkaya dalam mencapai tujuan yang sama.

Penghayatan dan Refleksi Ilmiah

Penghayatan dan refleksi ilmiah adalah dua bentuk berpikir yang berbeda. Penghayatan merupakan cara berpikir yang berjalan terus. Refleksi ilmiah diadakan dengan sengaja dan terarah. Dalam penghayatan, lahir keyakinan-keyakinan dan dalam refleksi ilmiah, dasar keyakinan itu diperjelas. Dua bentuk berpikir itu berbeda, namun saling membutuhkan satu sama lain.
Ada dua cara berpikir yakni :
• Penghayatan.
• Refleksi ilmiah.
Jenis berpikir yang pertama disebut Walgrave sebagai berpikir menghayati. Jenis berpikir yang kedua adalah ”berpikir merenung” (metodis refleksi). Kedua cara berpikir ini sama-sama membentuk hidup kesadaran manusia yang terarah kepada tujuan yang sama. Meskipun kedua bentuk berpikir itu berbeda satu sama lain, tetapi saling membutuhkan dan tidak bisa dipisahkan. Jika ilmu dilepaskan dari penghayatan, muncullah rasionalisme. Rasionalisme muncul karena ilmu dan ratio mengasingkan diri dari hidup. Ilmu tidak boleh lepas dari hidup. Ilmu haruslah ilmu yakni rasional, analitis, metodis, sistematis, dan kritis. Dengan refleksi ilmiah, diperoleh penjelasan yang tidak dimiliki oleh penghayatan. Jadi, dua bentuk berpikir itu tidak boleh lepas satu sama lain.

Berpikir Menghayati
Cara berpikir menghayati kita ketahui dari pengalaman hidup sehari-hari. Kita berpikir bukan hanya saat duduk dikursi untuk memecahkan suatu soal. Kita berpikir setiap saat dan terus – menerus. Ketika kita melihat sesuatu membuat kita semakin mengetahui sesuatu itu dengan merenungkannya. Berpikir menghayati ini tidak dapat dipaksakan. Dia menempuh jalannya sendiri dalam daerah – pinggir – perhatianku yang setengah sadar dan tidak sadar. Pada saat-saat kritis, melonjaklah keyakinan-keyakinanku dengan terang dan jelas serta dengan kepastian pribadi yang teguh masuk ke dalam kesadaranku yang penuh.

Keyakinan Bertumbuh dalam Penghayatan

Arti sepenuhnya dari proses penghayatan baru kita mengerti bila kita memahami bahwa dalam penghayatanlah timbul dan bertumbuh keyakinan-keyakinan pribadi, bukan dalam berpikir cara ilmiah. Apa dasar keyakinanku akan kehadiran Tuhan dalam hidupku? Dasar keyakinan bukanlah hasil filsafat ketuhanan. keyakinan dasar tumbuh dalam pengalaman hidup. Allah yang saya hayati ialah Allah yang berkarya dan dirasakan hadir dalam dalam perjalanan hidup ”Abraham, Isak, dan Yakub. Keyakinan itu muncul saat sayabersru kepada Tuhan. Dasar keyakinanku adalah sikap cinta dan saling menghargai membuat dunia menjadi surga. Sedangkan kebencian dan penghinaan merupakan neraka.
Kalau betul keyakinan bertumbuh dalam pengalaman dan cara ”berpikir-menghayati”, timbul perlbagai pertanyaan. Manakah fungsi ilmu dan refleksi ilmiah? Fungsinya jelas, tetapi kebanyakan orang tidak sempat untuk menjalankan refleksi yang bersifat ilmiah. Jadi dengan orang bertanya ia lebih banyak merenung atau refleksi dalam penghayatan sehingga dia yakin itu benar atau tidak.

Fungsi Refleksi Ilmiah

Berpikir cara ilmu dan beraagumentasi menolong kita untuk memandang hubungan antar unsur-unsurnya serta untuk menjelaskan dasar keyakinan hati. Dengan demikian, keyakinan menjadi milik kita secara lebih sempurna.berpikir cara ilmiah dan berargumentasi dalam hal ini tidak dapat dilepaskan darai penghayatan religius. Penghayatan religius menaburkan benih yang menuju keyakinan yang berurat-berakar dalam jiwa kita. Kenyataan ini tidak mengurangi nilai dan pentingnya refleksi ilmiah, bahkan menerangkan hubungannya yang amat erat dengan penghayatan. Penghyatan dan refleksi ilmiah merupakan dua bentuk berpikir yang didorong oleh gerakan yang sama, yakni hasrat menuju kebenaran yang adalah hasrat autentik dalam diri manusia.

Distansi

Telah diterangkan bahwa dalam tiap pengetahuan hadir pengetahuan yang implisit, yaitu kehadiran pada diri sendiri. Berkat kehadiran pada diri sendiri, manusia mampu berdistansi terhadap diri dan terhadap penghayatannya. Karena distansi inilah, manusia mempunyai kebebasan terhadap penghayatannya. Berkat distansi tersebut, saya sebagai subjek mampu bertransendensi terhadap penghayatan. Penghayatan yang satu dapat saya bandingkan dengan penghayatan yang lain.

Menuju Kebenaran dalam Penghayatan

Kalau benar bahwa keyakinan-keyakinan kita bertumbuh dalam hidup penghayatan dan bukan pertama-tama hasil ilmu, timbul pertanyaan: Apakah yang menjamin tercapainya kebenaran dalam hidup penghayatan? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut terlebih dahulu harus dikatakan bahwa refleksi yang kritis tidak hanya terjadi di dalam ilmu. Dalam bentuk tertentu, refleksi telah hadir dalam penghayatan. Di pihak lain, jelaslah bahwa kekhasan hidup penghayatan ialah kurang kritis dan kurang refleksi terhadap diri sendiri.

Intelek: ”Lumen Naturale”

Jawaban atas pertanyaan apa yang menjamin manusia menuju kebenaran dalam penghayatan ialah kehadiran lumen (cahaya) dalam dialog manusia dengan kenyataan dunia. Tanpa lumen, kenyataan tinggal dalam kegelapan. Berkat kehadiran lumen, penghayatan berada dalam perjalanan menuju kebenaran. Ada begitu banyak pertanyaan muncul, tetapi keyakinan itu tidak goncang. Manusia yakin akan kehadiran budi sebagai lumen dalam penghayatan. Lumen dalam segala pengalaman baik itu pengalaman yang manis maupun pengalaman yang pahit.

Sikap Dasar Kehendak Menuju Kebenaran

Kodrat manusia sebagai ”cayaha” membuat kenyataan terbuka bagi manusia. Berkat ”keterbukaan” ini, penghayatan pada hakikatnya objektif dan benar. Penghayatan dapat dipercayai. ”Cahaya” hadir dalam penghayatan dan memastikan bahwa penghayatan menuju kebenaran. Lumen adalah kodrat kita dan hadir di dalam diri kita yang sedang menuju kebenaran. Biarpun demikian, ada faktor-faktor lain yang ikut mempengaruhi. Ada itu budi dan kehendak serta kecongkakan dan cinta.

Penghayatan sebagai Jalan Utuh Menuju Kebenaran

Kita mengakui penghayatan sebagai jalan utuh menuju kebenaran dan kepastian. Kebenaran objektif bukanlah monopoli ilmu. Seorang ibu yang suci mungkin lebih tahu tentang Tuhan daripada seorang ahli Filsafat Ketuhanan. Seorang pelaut atau pelayar mungkin lebih tahu tentang laut dari pada seorang ahli kelautan. Jadi kebenaran itu tidak didasarkan pada bidangnya tapi pada kebenaran yang sesungguhnya.

Wilhelmus Famati Hia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s