Keraguan dan obyek metafisika

Filsafat

Keraguan atas metafisika

Peranan metafisika sering diragukan oleh alira-aliran filsafa seperti :
Skeptisisme mempunyai keraguan atas kemampuan kognitif manusia. Paham ini tidak percaya bahwa manusia mampu sampai ke abstraksi yang begitu jauh. Empirisme dan Positivisme meruduksikan pengetahuan manusia pada pengetahuan inderawi belaka. pengetahuan di luar pengetahuan inderawi sulit diterima sebagai pengetahuan yang sahih.
Materialisme meruduksikan realitas pada tatanan materi. Filsafat Analitas atau filsafat bahasa, khususnya dari kelompok positivisme logis, menolak ungkapan metafisika sebagai ungkapan yang berarti atau bermakna. Rudolf Canap mengatakan bahwa seorang metafisikus ibarat seorang musikus, yang pandai memainkan instrumen tetapi tidak mempunyai bakat musikal.

Menjawab keraguan itu (termasuk keraguan mengenai peranan metafisika) dua hal yang dapat diangkat sebagai berikut:
Pertama,bila metafisika ditolak keberadaanya, semua cabang filsafat mesti ditolak, karena setiap cabang filsafat memuat unsur metafisika , tetapi dilihat dari bidang tertentu. Misalnya filsafat manusia dan filsafat alam. Filsafat manusia, igin merefleksikan segi-segi yang terdalam dari manusia yang konkret. Filsafat alam merefleksikan secara mendasar kenyataan alam yang bersifat fisik. Itu berarti filsafat alam tidak berhenti pada kenyataan fisik saja, tetapi perlu mencari hal yang ada dibelakang yang fisik itu. Jadi, masalah metafisika merupakan inti dari semua cabang filsafat.

Kedua, dilihat dari kebutuhan manusia sebagai makhluk rasional, metafisika merupakan jawababan sistematis paling dalam dari kehausan intelektual manusia. Mengetahui tidak lain berusaha menyatukan kenyataan konkret yang beraneka macam. Pada akhirnya orang igin mencapai prinsip yang paling dasar yang mampu menyatukan semua hal dalam satu sistem. metafisika merupakan usaha sistematis mencapai prinsip-prinsip yang paling umum dan paling dalam itu. Keberadaan metafisika sebagai ilmu tidakdapat ditolak. Rumusan yang sistematis dari metafisika tidak lain mengukuhkan bahwa manusia adalah makhluk rasional dan sekaligus seorang “filsuf”.

Obyek Metafisika

Pengalaman dan metafisika

pengalaman merupakan ibu setiap ilmu, termassuk metafisika. Untuk bisa bermetafisika, orang harus bergaul dengan pengalaman, karena metafisika tetap merupakan sebuah bentuk pengetahuan manusia. Pengalaman manusia mempunyai dua segi : segi subyektif dan obyektif. Pengalaman dilihat dari segi obyektif ialah pengalaman yang dapat disentuh, diindera. Saya mengalami yang lain melalui inderaku. Tetapi tidak ada pengalaman yang hanya obyektif saja tanpa segi subyektif.
metafisika, sebagai ilmudan kegiatan refleksif, merupakan sebuah bentuk penyadaran diri.

Dalam pertemuan dengan yang diindera, saya sebagai subyek sadar akan aktivitas saya. saya sadar bahwa saya menangkap yang ada, yang real. Munculnya kesadaran ini terjadi bila subyek menyadarinya, karena tanpa kesadaran yang biasanya refleksif, orang tidak akan menyadari bahwa pengalaman inderawiku merupakan pengalaman diri yang beraktivitas. Dengan menyadari obyek, saya menyadari diriku. saya sadar akan realitasku sendiri. Obyek ada sebagai fakta. maksudnya saya melihat sesuatu ada, tetapi saya sama sekali tidak mempengaruhi adanya di hadapan saya. Dalam arti tertentu, saya sebagai subyek bersifat subyek.

Di bawah ini dijelaskan tiga ciri khas yang terdapat pada obyek, yakni :
Sebagai fakta, sesuatu itu hadir sebagai yang ada dan saya tidak tahu mengapa ada di hadapan saya. kehadirannya sulit ditebak atau di luar rencana saja. Ini merupakan fakta yang berada di luar rencana saya. jadi di sini tidak perlu kita melihat kehadiran sesuatu itu, kecuali mengafirmasikannya itu ada. Sebagai sesuatu yang kompleks, sesuatu itu datang dengan berbagai macam segi, aneka bentuk dan kehadirannya tidak dapat disangkal, dan mesti diterima begitu saja. Itu sebuah kemestian karena tidak tergantung pada kemauan saya dan saya tidak diberi kesempatan untuk mengelaknya. Sebagai sesuatu yang tidak stabil (dinamis),sesuatu itu selalu berubah terus-menerus, sesuatu itu sulit dipegang, selalu lepas, karena mengalami perubahan. Sesuatu yang ada sebagai fakta itu selalu dalam proses “menjadi”.

Obyek material dan fomal metafisika

Perbedaan antara obyek material metafiska dan obyek formal metafisika adalah sebagai berikut :

Obyek material metafisika.

Obyek material metafisika, ialah : yang ada, dalam arti semua realitas, atau apa saja yang berada. Yang ada tetap bersifat aktual, bereksistensi, universal karena menyangkut seluruh realitas.

Obyek formal metafisika.

Obyek formal metafisika, adalah : ada sebagaimana adanya. Seluruh realitas yang mau dilihat dari segi metafisika ialah ada sebagaimana adanya.

Metafisika dan pengetahuan biasa

Untuk menggarisbawahi obyek formal metafisika, kita perlu membedakan metafisika dari pengetahuan biasa. Pengetahuan biasa menyangkut masalah yang-ada. Kita memang mengetahui sesuatu (yang-ada) tetapi kita tidak bertemu dengan yang-ada dari benda-benda itu. Kita berhubung dengan ekstensi, raga, wujud dan bukan yang-ada sendiri dalam benda-benda itu.

Terdapat beberapa perbedaan antara pengetahuan biasa dan metafisika yakni :
Dalam pengetahuan biasakita mengenal yang ada dan menerima saja keberadaannya. Justru metafisika mencari struktur dasar dari yang ada, prinsip-prinsip dasar yang memperjelas keberadaan itu. Pengetahuan biasa yang ada sebagian besar terbatas pada hal-hal yang partikular. Tetap pada keanekaan bentuk pengetahuan. tetapi metafisika mempertanyakan dan menyelidiki unsur pemersatu di dalamnya. Juga mencari tahu sifat unuversal dari semua, yakni bagaimana yang ada menjadi sama untuk semua. Pengetahuan biasa mengenai yang ada terbatas pada keberadaan yang empiris. Memikirkannya dalam hubungan dengan benda-benda material, dan jasmani. Akan tetapi metafisika menarik dari pengalaman langsung itu segi yang ada saja.

Metafisika dan ilmu pengetahuan yang partikular

Guna mempertajam pemahaman mengenai obyek formal metafisika perlu dibandingkan metafisika dengan ilmu pengetahuan yang berkutat dengan bagian-bagian tertentu realitas atau, menurut Thomas Aquinas, ilmu pengetahuan partikular.

Untuk lebih jelas marilah kita lihat beberapa bagian di bawah ini :

Perbedaan metafisika dan ilmu pengetahuan adalah terletak pada obyek formalnya. Obyek formal metafisika adalah realitas sebagai realitas. Sedangkan ilmu pengetahuan menyangkut sebagian dari realitas. Metafisika mempunyai obyek formal tersendiri karena itu merupakan sebuah ilmu otonom. Melihat semuanya secara universal yakni yang ada pada semua hal. Jadi metafisika merupakan scientia universal (ilmu universal). Metafisika berkutat dengan yang ada sebagai yang ada. Metafisika meneliti yang ada sehubungan dengan sebab-sebab yang terdalam dan universal. Metafisika kedudukannya sebagai ilmu pengetahuan yang tinggi. Metafisika lebih bercorak kebijaksanaan dari pada ilmu.

Metafisika dan cabang-cabang filsafat

Cabang filsafat berdiri sendiri dan tidak terlepas dari metafisika maksudnya obyek formalnya sendiri. Metafisika disebut ratu ilmu pengetahuan karena dia yang utama (maksudnya metafisika) baru yang lainnya seperti cabang-cabangnya dan sekaligus ilmu filsafat yang pertama sedangkan, cabang-cabangnya berada di bawah metafisika itu sendiri.

Hubungan metafisika dengan filsafat lainnya dapat kita lihat di bawah ini :
Filsafat alam, dalam filsafat alam ini yang paling mendasar adalah dunia material. Ilmu ini berkutat pula dengan masalah sebab dari gerak, hakikat ruang dan waktu. Filsafat manusia, merupakan ilmu yang berkecimpung dengan asal-usul mansia, (kebiasaan dan kemampauan).
Teori pengetahuan (Epistemologi), ilmu yang mempertahankan realisme filosofis melawan serangan kaum skeptik, agnostik, positivistik dan idealis. Filsafat moral, prinsip-prinsip tingkah laku manusia yang mengarahkan tindakan pada tujuan akhir. Teologi natural, bergulat dengan eksistensi Allah dan kodrat-Nya. Cabang filsafat yang sangat khusus, membahas segi metafisika dari, tetap dalam kaitan dengan metafisika. Logika, berkutat pada teknik berpikir lurus dan benar, tetapi tidak mengenai kebenaran dalam dirinya-sendiri.

Wilhelmus Famati Hia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s