Film Jean of arc

Film

Jean sewaktu kecil pernah melihat penampakan “dimana dia bertemu dengan Allah”. Dia termasuk anak yang soleh, dan paling tidak sekali sebulan mengaku dosa. Pengalaman tragis pun pernah ia alami saat masih kecil yang membawanya pada trauma psikis. Bagaimana tidak, kakaknya dibunuh dan diperkosa didepan matanya sendiri oleh lelaki berkebangsaan Inggris. Akibatnya, Jean menjadi benci dan dendam kepada orang-orang Inggris. Ketika dia besar datang kepada putra bungsu seorang Raja Charles dan mengatakan bahwa dia adalah utusan Allah untuk menyelamatkan negara Perancis dari tangan Inggris.

Dia menceritakan apa yang dia lihat dan apa yang dia alami tentang Tuhan. Dari ceritanya itu akhirnya putra bungsu memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan mukjizat. Misi Jean tercapai dimana Perancis menang atas Inggris, dia menjadi pemimpin perang, dia seperti lelaki yang gagah perkasa mempunyai keberanian yang kuat. Pertumpahan darah tidak bisa dikendalikan lagi sehingga banyak memakan korban. Namun kesaksian Jean melihat Tuhan dipertanyakan karena pengalaman itu terlalu misterius.

akhirnya orang pada tidak percaya lagi kepadanya karena penampakan yang dialaminya tidak bisa dibuktikan secara nyata lewat mujizat malah dia dianggap penyihir. Emang secara rasio penglihatan yang dialaminya sulit diterima dan kurang masuk akal. Jean sangat manusiswi. Ia datang dari desa terpencil dan menjadi terkenal sewaktu ia baru saja melepas masa kanak-kanaknya dan ia melakukan itu dengan status sebagai golongan petani yang tak berpendidikan. Raja-raja Perancis dan Inggris membuat pembenaran terhadap perang yang terjadi melalui perang interpretasi terhadap hukum Salic yang telah berumur ribuan tahun.

Konflik yang terjadi adalah sengketa waris antara kedua monarki. Jeanne memberikan arti pada ketulusan, sehingga Jean de Metz berucap, “Haruskah raja diusir dari kerajaan; dan kita menjadi orang Inggris?” Meminjam kata-kata Stephen Richey, “Ia mengubah apa yang tadinya hanyalah sengketa antar dinasti yang membuat rakyat jelata tak tergerak, kecuali untuk kesengsaraan mereka sendiri, menjadi suatu perjuangan populer yang penuh semangat demi pembebasan negeri.”

Richey juga menggambarkan:”Orang-orang yang yang datang lima abad setelah kematiannya berupaya untuk memberi segala macam cap pada dirinya: pengikut iblis, penyihir, boneka kekuasaan yang lugu dan tragis, pencipta dan simbol nasionalisme modern, pahlawan yang dicintai, orang suci. Ia bersiteguh, bahkan sewaktu diancam dengan siksaan dan dihadapkan pada kematian dengan dibakar, bahwa ia dibimbing oleh suara Tuhan. Benar atau tidak, apa yang dicapainya telah membuat siapapun yang mengetahui kisahnya akan menggelengkan kepala dengan penuh kekaguman.”Jeanne menjadi simbol Liga Katolik pada abad ke-16.

Félix Dupanloup, uskup Orléans dari 1849 sampai 1878, memimpin suatu upaya yang berujung pada beatifikasi Jeanne pada 1909. Kanonisasi terhadap dirinya dilakukan pada 16 Mei 1920. Ia menjadi salah satu santa paling populer di gereja Katolik Roma.
Jeanne d’Arc bukanlan feminis. Ia bertindak dalam lingkup tradisi keagamaan yang mempercayai bahwa orang terpilih dari strata sosial manapun dapat memperoleh panggilan rohani. Ia mengusir perempuan dari tentara Perancis dan mungkin saja telah memukul seorang pengikut yang keras kepala dengan pedang. Walaupun demikian, beberapa penolong utama terhadapnya berasal dari perempuan. Ibu mertua Charles VII, Yolande dari Aragon, mengkonfirmasikan keperawanan Jeanne dan membiayai keberangkatannya ke Orléans.

Joan dari Luxemburg, bibi dari Count dari Luxemburg yang menahan Jeanne di Compiègne, memperbaiki kondisi penahanannya dan kemungkinan telah menunda penjualannya ke Inggris. Terakhir, Anne dari Burgundi, istri dari wali Inggris, menyatakan bahwa Jeanne adalah seorang perawan sewaktu sidang pendahuluannya. Secara teknis, hal ini menghalangi pengadilan untuk menuduh Jeanne sebagai penyihir. Hal ini sedikit banyak kemudian juga menjadi dasar bagi pembersihan nama dan pengangkatan Jeanne menjadi santa. Kaum perempuan melihat Jeanne sebagai contoh positif perempuan yang keberanian dan keaktifan perempuan.

Film kontroversial ini mengangkat pandangan tentang kemungkinan historis adanya seorang perempuan sebagai kelengahan dari otoritas tradisi Gereja Katolik di mana hierarki adalah privilese pria. Sebagai suatu bentuk karya seni memang mengesankan bahwa ada pandangan bahwa kehadiran perempuan pun bisa menjadi penyalur rahmat Ilahi dan bisa memimpin dengan hati baik dan kebijaksanaan. Di sana dikisahkan sang perempuan secara meyakinkan lewat pengalaman perjalanan hidupnya yang pahit seolah-olah dipilih dan diutus Allah untuk menyamar menjadi pria dan masuk ke dalam lingkungan pejabat Gerejawi yang diwarnai skandal perebutan kekuasaan. Sang perempuan sepertinya begitu saja dikondisikan oleh Allah menjadi pahlawan kebenaran dan menjadi pemimpin tertinggi yang saleh.

Suatu kritik terhadap tradisi Gereja Katolik akhirnya digambarkan dengan memperlihatkan bahwa perempuan yang diutus Allah ini ternyata juga secara manusiawi mengalami cinta yang luhur. Kemudian digambarkan secara dramatis bagaimana tradisi memaksa seseorang harus terus berbohong dan menyangkal kodrat cinta manusiawinya. Perempuan ini digambarkan rela wafat dengan mengenaskan demi menjaga cintanya yang harus berujung pada kematian karena legalisme tradisi yang kaku ini menimbulkan politik kotor dalam Gereja. Di sini tradisi yang telah dipelihara Gereja dianggap pemasungan atas hak asasi manusia akan pentingnya cinta dalam relasi pria-wanita, suatu pembangkangan moral yang sistemik.

Serangan yang juga nampak jelas ialah pada narasi penutup kisah. Di dalam cerita secara eksplisit diasumsikan secara meyakinkan bahwa dalam kalangan pejabat Gereja ada niat keji. Semua kenyataan yang memalukan itu hendak ditutupi dengan penutupan berkas kasus dan menampilkan propaganda kesucian dalam Gereja. Jadi, seakan-akan Gereja hanyalah pembohong yang dikuasai hasrat manusiawi belaka tanpa melihat sisi lain, Gereja sebagai bentuk kehadiran Allah yang kebenarannya dijamin oleh Roh Kudus.

Melalui film ini banyak argumentasi yang diajukan untuk menyerang Gereja lewat celah-celah data historis dalam sejarah gereja. Sekilas tampak demikian meyakinkan tetapi seakan-akan sedemikian naifnya organisasi yang kuat ini disusupi kelengahan-kelengahan yang demikian. Celah-celah historis yang kabur coba dibetot sedemikian rupa agar tercipta suatu sejarah baru yang diajukan sebagai kebenaran. Hal yang perlu dicermati ialah pentingnya pembuktian dan kesaksian yang lebih komprehensif dan terbuka tentang serangan yang diajukan itu. Di sini sepertinya tidak ada bukti yang jelas dapat dipertanggungjawabkan dan terpercaya untuk mengokohkan argumentasi pencerita. Di sisi lain Gereja yang sadar bahwa tradisi ini memiliki warisan yang jelas ortodoks dan bernilai Ilahi tidaklah akan kalah dengan serangan seperti ini sebab ada keimanan bahwa Allah hadir dalam proses perjalanan Gereja sampai akhir zaman.

Oleh Wilhelmus Famati Hia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s