Perkembangan Arti Penafsiran Menurut Paul Ricoeur

Hermeneutika

Paul Ricoeur menggunakan definisi hermeneutika dilihat dari cara kerjanya sebagai berikut : hermeneutika adalah teori tentang bekerjanya pemahaman dalam menafsirkan teks. Jadi gagasan kuncinya adalah realisasi diskursus sebagai teks. Dalam hermeneutika akan dibahas pula mengenai pertentangan antara penjelasan (explanation) dengan pemahaman (understanding), yang menurut Paul Ricoeur menimbulkan banyak persoalan.

Menurut Paul, sejarah hermeneutika belakangan ini di dominasi oleh obsesi yakni cenderung memperluas tujuan hermeneutika dengan cara-cara tertentu sehingga hermeneutika regional digabungkan ke dalam sebuah hermeneutika umum. Usahanya untuk mencapai status ilmu pengetahuan ditempatkan dibawah obsesi ontologis sehingga pemahaman tidak lagi dipandang sekedar cara mengetahui tapi hendak menjadi cara mengada dan cara berhubungan dengan segala yang ada dan dengan ke-mengada-an.

Gerakan deregionalisasi dan gerakan radikalisasi mengantar hermeneutika untuk tidak menjadi sekedar umum tetapi juga mendasar. Hermeneutika mempunyai tempat pertama interpretasi yakni bahasa, dan lebih khusus lagi bahasa tulis. Oleh sebab itu, sangat penting memahami dengan tepat kenapa hermeneutika memiliki hubungan istimewa dengan persoalan bahasa. Ciri bahasa yakni natural maksudnya polisme yaitu : sebuah ragam dimana kata yang kita miliki mempunyai maknalebih dari satu ketika dilihat di luar penggunaannya dalam sebuah konteks tertentu. Pada konteks kita harus peka karena kepekaan terhadap konteks merupakan perlengkapan yang sangat penting sekaligus sejawat yang niscaya dari polisemi.

Menurut F. Schleiermacher upaya menempatkan aturan-aturan khusus tafsir dan filologi ke-bawah problematika pemahaman yang lebih umum menciptakan pembalikan (revolusi) yang betul-betul bisa dibandingkan dengan apa yang telah dihasilkan filsafat Kantian di lain masa, terutama dalam ilmu alam. Dala hal ini bisa dikatakan bahwa Kantianisme telah menjadi cakrawala paling karib dengan hermeneutika.

Berikutnya hermeneutika muncul sebagai tanggapan umum terhadap kekosongan Kantianisme yang pertamakali disadari oleh Herder dan lebih jelas lagi ditangkap oleh Cassirer: bahwa dalam filsafat kritis tidak ada hubungan antara fisika dan etika. Oleh karena itu, program hermeneutika Schleiermacher memiliki dua ciri utama yaitu: ciri Romantis yang berpegang pada hubungan yang hidup dengan proses penciptaan, dan ciri kritis karena ia ingin mengelaborasi kaidah pemahaman yang valid secara universal. Agaknya hermeneutika akan selalu ditandai oleh dua hubungan ini-Romantis dan kritis, kritis dan Romantis. Usaha untuk menghindari kesalahpahaman yang termakjub dalam adagium terkenal bahwa ’dimana ada kesalahpahaman disitu ada hermeneutika.

Di satu sisi, hermeneutika menyempurnakan psikologi interatif dengan melengkapinya dengan tahapan tambahan, sementara di lain sisi, psikologi interpretatif membalikkan arah hermeneutika ke arah psikologi. Hal itu menjelaskan keapa Dilthey mempertahankan dimensi psikologi hermeneutika Schleiermacher, di mana dia mengetahui persoalannya sendiri tentang pemahaman dengan memosisikan dirinya pada posisi orang lain. Bagi kedua pemikir ini, tugas utama hermeneutika adalah: ’secara teoritis menetapkan validitas universal bagi interpretasi, demi menghindari dorongan romantisisme dan subjektivisme skeptis, di mana validitas itu dapat menjadi landasan setiap kepastiansejarah’.

Otonomi teks yang akan menjadi titik tumpu refleksi kita, hanya akan menjadi fenomena sementara dan sepele. Persoalan objektivitas. Dlthey memiliki kesamaan dengan tokoh-tokoh sesudahnya dalam pandangan bahwa kehidupan sebenarnya adalah kedinamisan yang kreatif: akan tetapi berlawanan dengan filsafat kehidupan, dia yakin bahwa kedinamisan yang kreatif itu tidak bisa mengetahui dirinya sendiri dan hanya bisa menafsirkan dirinya dengan cara melingkar melalui berbagai tanda dan kerja.

Oleh karena itu, di dalam karya Dilthey akan terlihat perpaduan antara konsep dinamis dan konsep struktur: kehidupan berjalan sebagai sebuah kedinamisan yang menstruktur dirinya sendiri. Itulah sebabnya kenapa yang universal menjadi wilayah hermeneutika. Agar saya bisa memahami diri, saya mesti melewati jalan melingkar yang panjang melalui ingatan yang menyimpan berbagai hal bermakna bagi manusia.

Gadamer telah mengartikulasikan dengan jernih konflik laten yang terdapat di dalam karya Dilthey (WM 205-8; TM 192-5): pada akhirnya konflik itu terjadi antara filsafat kehidupan, yang luar biasa irasional, dengan filsafat makna yang memiliki pretensi serupa dengan roh objektif dalam filsafat Hegelian. Oleh sebab itu, untuk mengetahui objektivikasi kehidupan dan untuk memosisikannya sebagai sesuatu yang sudah begitu adanya (given), kita mungkin akan bertanya, tidakkah penting menempatkan idealisme spekulatif di dasar paling bawah kehidupan, yaitu bahwa pada akhirnya kehidupan itu sendiri dianggap sebagai roh (Geist).

Namu bagaimana mengekspresikannya secara utuh dengan mengobjektifkan hampir seluruh hidupnya? (ini dalam seni dan agama). Disinilah roh menemukan tempatnya yang sesuai. Akan tetapi untuk melakukan penemuan perlu dikesampingkan hubungan nasib hermeneutika dengan konsep ’masuk ke dalam kehidupan mental orang lain’ yang murni psikologis: bentangan teks harus dirambah, bukan lagi menuju pengarangnya, tapi menuju makna intrinsiknya dan dunia yang disibak dan diungkapnya.

Di sisi lain hermeneutika mempertaruhkan soal hermeneutika filosofis yakni ’bagaimana menjelaskan segala ’yang ada’ berdasarkan keadaan dasar ’ke-ber-ada-an-nya’. Hermeneutika bukanlah refleksi tentang ilmu-ilmu kemanusiaan, akan tetapi penjelasan tentang landasan ontologis yang bisa dijadikan sebagai dasar untuk menciptakan ilmu-ilmu ini.

Dari sinilah asal kalimat yang sangat penting artinya bagi kita: hermeneutika baru dianggap ’memiliki akar yang bisa disebut ”hermeneutis”’ hanya derivatif: yaitu metodologi ilmu-ilmu kemanusiaan”. Fungsi pertama pemahaman adalah untuk mengarahkan kita dalam sebuah situasi. Yang terpenting adalah mengenai persoalan teks, membawa saya kepada gerbang refleksi saya sendiri.

Hermeneutika

Wilhelmus Famati Hia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s