Skeptisisme

Filsafat

Kritik terhadap skeptisisme :

  • Skeptisisme menyebabkan pertentangan dengan diri sendiri.
  • Benar (kalau tidak ada yang benar) pernyataan yang mengungkapkan apa yang nyata atau apa yang sebenarnya.
  • Mempunyai pikiran sehingga kamu menyetujui pendapat saya karena kamu sama dengan saya sama-sama mempunyai pikiran.
  • Logis, berpikir secara logis.
  • Kesepakatan sehari-hari, (kebijakan sehari-hari) kebenaran yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, konsensus (kesepakatan) sehari-hari. misalnya menyediakan payung sebelum hujan. Jadi bertolak dari kebenaran.

 Sisi positif skeptisisme :

  • Menghargai retorika dimana sangat menghargai pentingnya retorika antara manusia. Retorika disini artinya seni berbicara di depan publik atau teknik berbicara, serta memancing minat. Retorika merupakan sebuah persiapan untuk logika (untuk dipahami dan dimengerti).
  • Bersikap kritis, Apa dasar pemikirannya bagi kita ? Kenapa berpikir begini ? adakah buktinya ? atau ada evidensinya ?. bukti yang bisa ditampilkan sehingga lebih jelas.

 

Prinsip-prinsip pertama atau fundamental dari cara berpikir manusia.

Prinsip di atas menjadi titik awal dan titik tolak berpikir manusia. Disebut fundamental karena itu sumber pikiran manusia (logika) sehingga lebih mendalam untuk memahami sesuatu.

 Apa prinsip itu ?

           Manusia adalah manusia rasional (defenisi Aristoteles) dimana manusia mempunyai hak untuk berpikir, mengeluarkan pendapat dan hak itu harus dikembangkan.

 Apa arti rasional ?

 kapan diperlihatkan?

Dan bagaimana sebaliknya?

Manusia itu adalah makhluk yang rasional karena spontan dan proses berpikirnya bergerak secara teratur karena mengikuti prinsip yang ada. Irasional kalau aturan-aturan itu dilanggar (direfleksikan dan menjadi sadar) dan bagaiaman cara mengendalikannya agar tidak melanggarnya lagi. Rasional manusia bergerak sesuai dengan hukum moral atau hukum akal budi.

Prinsip itu antara lain :

  1. Prinsip identitas, rumusanya A=A verbalnya yang itu ada dan sebaliknya. Fungsinya : ada perbedaan antara yang ada dengan yang tidak ada. Yang ada tidak sama dengan yang tidak ada istilah lainnya jangan mengada-ngada. Rasio mengalami apa yang ada dan yang tidak ada. Memaksakan pikiran kita terhadap apa yang kita pikirkan, apakah yang kita pikirkan itu ada atau tidak ada. Misalnya perbedaan sesuatu dengan sesuatu yang lainnya rumusannya A=A, T ≠ D. Setiap obyektifitas mempunyai ciri khas dan keunikannya sendiri. …Is what it is…segala yang ada adalah dirinya sendiri. Akal budi bisa membuat perbedaan antara obyek yang satu dengan yang lainnya. Berpikir jelas dan terpilah-pilah (itulah akal budi).
  2. Prinsip nonkontradiksi (tidak jatuh dalam kontradiksi).Tidak ada sesuatu pun yang ada, yang tidak ada  dan yang benar, tidak benar dalam waktu bersamaan. Mendorong kita untuk bersikap konsisten bukan nonkonsisten karena tidak mungkin kita menerima serta mengakui dalam waktu bersamaan tidak mungkin sekaligus saya mengatakan “anak ini lulus dan tidak lulus. Orang pasti bingung yang mana yang benarnya lulus atau tidak lulus. Jadi konsisten sebagai lawannya.
  3. Prinsip kausalitas (sebab akibat).Ada perbedaan antara yang ada dan yang tidak ada. Oleh karena ada dan tidak ada itu kalimat yang berbeda dan artinya berbeda sehingga tidak sama. Tanpa alasan dia ada  berarti itu akan tenggelam atau kabur. Kalau “ada” pasti ada sebabnya. Dan kalau “tidak ada” pasti ada sebabnya. Misalnya korupsi di Indonesia ada, pasti ada sebabnya. Contoh lain lagi korupsi di Jepang tidak ada, pasti ada sebabnya. Manusia menggunakan akal budinya untuk mengetahui dan mencari sebabnya. Manusia juga makhluk yang memiliki rasio. Dimana ada jaringan antara objek yang satu dengan yang lainnya.
  4. Prinsip yang keempat ini adalah…alasan yang memadai dan mencukupi.Ada jaringan obyek yang menjadi akibat dari kosekuensi tertentu. Diantara jaringan harus ada keseimbangan. Kalau masalah itu besar berarti akibatnya pasti besar. Prinsip ini sering dipakai orang Indonesia. Alasan karena tidak seimbang dengan peristiwa yang terjadi. Kesetaraan antara sebab akibat.

Contoh :

Seorang dokter tertembak mati. Alasan dari petugas adalah dokter tersebut main-main dengan pistol (alasan ini konyol) sehingga orangtua korban tidak percaya mana mungkin dia menembak dirinya sendiri, tentunya yang menembak dia pasti orang lain yang memegang pistol……!!

 sumber : Etika Dasar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s