Bidaah-bidaah

Filsafat

Munculnya bidaah-bidaah memperlihatkan pergumulan dan dinamika yang hidup dalam ikhtiar Gereja untuk mempertanggungjawabkan ajaran dan rumusan-rumusan iman. Bidaah-bidaah itu antara lain :

Gnostisisme

Gnosis berkembang pada tahun 130-180 masehi dengan berpusat di beberapa tempat seperti Aleksandria, Antiokia, dan Roma. Masalah fundamental sistem gnostik : menerangkan asal-usul dunia dan kejahatan di dalam dunia dan di dalam diri manusia. Unsur dasariah : dualisme (kerajaan : terang berasal dari Allah dan gelap berasal dari materi yakni: dunia fisis dianggap sebagai tempat yang tidak cocok bagi manusia, gagasan tentang dosa diambil dari pemikiran Yahudi-Kristen, Gnostis merupakan jalan keluar satu-satunya dari keadaan aktual, moral diganti dengan praktik ritus-magis.

Gnosis menyangkal : inkarnasi (sebab materi itu jahat); kematian Yesus (sebab keselamatan diperoleh melalui keutamaan gnostis dan bukan melalui korban Kristus di bukit Kalvari; kebangkitan (tidak dapat ditolerir gagasan tentang jiwa yang yang bertubuh, sebab tubuh adalah bui yang menyengsarakan; panggilan universal (gnostis itu terbatas pada orang-orang yang memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam; dan etika.

Ada tiga jenis manusia menurut Gnostisisme: ilicus (fleshly), yang cenderung pada materi; Psichus (psychic) golongan menengah atau jemaat; Pneumatikus (spiritual) manusia sempurna yang terlibat dalam penebusan. Gnostisisme menolak kemanusiaan Yesus; mengakui validitas PL dan PB; dan otoritas Gereja dan tradisinya. Tokoh gnostisime yakni Ireneus, dan Klemens.

Montanisme

Tokohnya adalah Montanus dan kemudian didukung oleh Paus Victor (198) dan Zephi-rinus (217). Montanisme seorang imam pada pertengahan dan akhir abad ke-2.

Gerakan Montanisme ini diperkenalkan sebagai gerakan yang diilhami Roh Kudus. Dan mempersatukan umat Kristen untuk menyambut kedatangan kerajaan Allah yang memang sudah dinati-nantikan. Roh Kudus, sebagai penghibur menuntut perilaku yang suci seperti :

Menolak perkawinan kedua, bahkan perkawinan sendiri dianggap rendah; berpuasa secara ketat; menetapkan xenofagia (makan makanan kering, tanpa daging); tidak menyangkal iman dan kemartiran; menolak mengampuni dosa besar:pembunuhan, murtad, zinah; menolak setiap bentuk otoritas kegerejaan; menyerahkan diri total kepada nabi-nabi baru; Injil bukan warta keselamatan bagi orang sakit, belaskasih bagi yang lemah; Injil hanya disorot dari perspektif kemartiran saja.

Manikheisme

Ada dua keanggotaan manikheisme yaitu pendengar (audientes) yang membatasi diri pada pelaksanaan 10  perintah manikheis seperti menjauhkan diri dari berhala, dusta, magi, pencurian, percabulan, pembunuhan. Sedangkan katari (electi = orang-orang terpilih, manikheis sejati). Katari berkaitan dengan mulut, tangan, dan hati.

Kontroversi tentang Trinitas

Dalam kontroversi muncul beberapa bidaah yang secara umum ada dua kelompok yaitu subordinasionisme dan monarkhisme. Subordinasinisme mengajarkan kalau Allah Putera lebih rendah status-Nya ketimbang Allah Bapa, dan Allah Roh Kudus lebih rendah statusnya ketimbang Allah Putra. Sedangkan monarkhianisme menekankan keesaan Allah triniter dalam tata ilahi (monarchia), dibedakan dalam dua kelompok yaitu yang pertama monarkhianisme dinamis yang mengajarkan bahwa Yesus adalah Anak angkat Allah dan mengenakan dynamis ilahi. Sedangkan yang kedua monarkhianisme modalistis yang mengajarkan bahwa Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah semata-mata nama untuk pelbagai manifestasi dari satu Allah yang sama; nama itu tiga cara berada yang berbeda dari satu pribadi yang sama.

Skisma

Skisma muncul karena konflik berkaitan dengan tata tertib dan disiplin Gereja, berkenaan dengan disput mengenai Paskah dan lapsi (apostasi) yang dirayakan pada tanggal yang berbeda. Orang-orang Kristen Timur merayakan paskah pada tanggal 14 Nisan apapn harinya dalam pekan itu. Sementara orang-orang Kristen Barat yang merayakannya pada hari Minggu setelah tanggal 14 Nisan. Menyangkut perbedaan tersebut masih dapat dikatakan, bahwa perayaan Paskah bukan saja menyangkut soal tanggal perayaan yang berbeda, tetapi juga soal interpretasi atas pesta Paskah. Sebab di satu pihak tidak ada Minggu paskah, dan di lain pihak tidak dikenal Jumat Suci. Di Asia Paskah berarti penyaliban Tuhan Yesus, di Barat sebaliknya Paskah berarti kebangkitan.

sumber: sejarah gereja 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s