KEBAHAGIAAN MENURUT ARISTOTELES

Filsafat

Pemikiran – Pemikiran Aristoteles
Menurut Aristoteles, kebahagiaan itu disebabkan oleh kebajikan. Aristoteles percaya kebajikan menyebabkan kebahagiaan . Kutipan ini membuat kita bertanya-tanya apa itu kebajikan. Dalam artikel yang saya baca kebajikan, adalah prasyarat untuk memasuki bait suci kudus Tuhan, dan untuk menerima bimbingan Roh. Kebajikan adalah pola dari pemikiran dan perilaku berdasarkan standar moral yang tinggi. Kebajikan itu dimulai dalam hati dan akal budi. Itupun diajarkan di rumah. Kebajikan dalam bahasa latin virtus yang artinya daya .

Kebahagiaan yang dibicarakan oleh Aristoteles belum tentu sama dengan apa yang kita pikirkan saat ini. Konsep kebahagiaan zaman sekarang atau zaman ini tentu yang berkaitan dengan hal-hal yang nikmat, jabatan, kekuasaan dan kegembiraan. Hidup yang baik bagi Aristoteles adalah hidup yang bahagia. Jadi baik adalah bahagia. Berbagai macam penafsiran “yang baik” ada banyak yang baik di dunia ini misalnya, pekerjaan yang baik, studi yang baik, pelayanan yang baik, dan juga prestasi yang baik. Mencapai kebaikan tidaklah mudah sebab kebahagiaan yang diperoleh merupakan hasil perjuangan setiap orang. Melakukan yang baik butuh latihan secara terus menerus. Semuanya mempunyai proses untuk menjadi lebih baik. Sama halnya ketika belajar musik kita sangat membutuhkan waktu yang banyak untuk latihan. Dan tentu saja untuk menjadi pemain musik yang hebat tidak hanya sekali latihan langsung jadi akan tetapi lebih dari sekali bahkan beberapakali.


Sekarang adalah waktu untuk mempersiapkan dengan lebih banyak berlatih disiplin diri. Sekarang adalah waktunya untuk menjadi tambah berguna . Kutipan ini sangat memberi perhatian pada “latihan”. Dimana dalam kehidupan sehari-hari orang pasti butuh latihan untuk melakukan sesuatu dengan baik. Jadi latihan itu sangat perlu untuk melakukan sesuatu dengan baik misalnya berlatih untuk disiplin diri, ini sederhana sekali tetapi tanpa latihan untuk itu tidak pernah bisa menjalankan disiplin tersebut dengan baik. Belajar untuk disiplin bagi pemula tidak langsung jadi tetapi butuh proses untuk “menjadi” tanpa proses orang tidak akan pernah menjadi sesuatu. Ketika seseorang belajar untuk disiplin dan berusaha sekuat tenaga untuk melakukannya pasti mendapatkan hasil yang memuaskan.
Ketika seseorang mementingkan keutamaan misalnya belajar untuk menjadi lebih baik dari pada sebelumnya, berlatih untuk berbuat baik kepada sesama manusia dimana ia berada, berarti orang tersebut mengerti apa itu kebajikan. Pada waktu seseorang mengerti dan melaksanakan kebajikan saat itu juga dia pasti bahagia asalkan tidak ada paksaan dari yang bersangkutan. Dalam bukunya Aristoteles, kebajikan adalah merupakan jalan tengah yang berfokus pada garis tengah pada emosi dan tindakan. Contohnya yang satu ditandai dengan kelebihan dan yang lainnya ditandai dengan kekurangan. Dengan demikian jalan tengah merupakan hal yang patut mendapat pujian. Kadang kita perlu kecenderungan pada kelebihan, kadang cenderung pada kekurangan karena dengan cara yang seperti ini kita lebih mencapai jalan tengah, yang merupakan persoalan keutamaan.
Kebajikan yang dimaksudkan oleh Aristoteles adalah melakukan sesuatu dengan baik misalnya menolong sesama dengan hati yang ikhlas, memberi tanpa diminta atau peka terhadap situasi, dan melaksanakan tugasnya dengan baik serta bertanggungjawab. Jadi kebajikan itu merupakan keutaamaan untuk mencapai kebahagiaan. Di sini jelas bahwa kebajikan itu bukanlah paksaan tapi benar-benar dari hati yang ikhlas.
Aristoteles pernah mengatakan bahwa “tugas utama orang yang bertujuan mencapai jalan tengah adalah menghindari ekstrem yang berlawanan dengannya.” Pendapat Aristoteles ini didasarkan pada nasihat Calypso : “Jagalah kebersihan bahterahmu dari semprotan dan gelombang.”
Dari pernyataan di atas kita dapat melihat bahwa mencapai jalan tengah orang harus menghindari tindakan ekstrem yang berlawanan dengannya contohnya menjauh dari kesalahan. Seandainya seseorang merasa senang harus mempertahankan kesenangannya berarti ia membuat kesalahan sehingga ia jatuh. Logika pemikiran ini mau menyatakan bahwa seseorang tidak mungkin selamanya baik tanpa hentinya, dan tidak mungkin seseorang lepas dari kesalahan. Pada zaman ini komitmen menjauh dari kesalahan bukanlah hal yang mudah. Sebab, zaman ini menawarkan begitu banyak hal-hal yang membuat manusia lupa diri, kurang kontrol, terbawa arus zaman, dan tergoda dengan hal-hal yang nikmat misalnya (nafsu, emosi, dan keinginan yang berlebihan). Akan tetapi, bukan berarti, kita menyerah pada tawaran zaman. Jangan sampai zaman mengendalikan kita. Kitalah seharusnya pengendali zaman. Kitalah yang menuliskan sejarah hidup kita. Oleh karena itu, konsistensi, komitmen dan kesadaran akan konsekuensi sangat penting dikala kita berhadapan dengan zaman. Jika kita selalu ingat akan komitmen hidup pada saat itu kita semakin bertumbuh dalam kesadaran sehingga kita berusaha untuk tidak jatuh dalam dosa yang sama.
Filsuf kondang Aristoteles pernah menorehkan buah pemikiran bahwa “keutamaan moral berkaitan dengan kesenangan dan kesusahan. Kesenanganlah yang membuat kita melakukan perbuatan rendah dan kesusahan atau penderitaanlah yang menghalangi kita dari melakukan tindakan mulia.”

Pada umumnya orang mengalami apa yang dinyatakan Aristoteles ini. Keutamaan itu selalu ada kaitannya dengan kesenangan dan juga penderitaan. Keutamaan itu sendiri berkaitan dengan tindakan dan emosi. Pendeknya, kesenangan dan penderitaan adalah konsekuensi dari setiap emosi dan tindakan. Dari pandangan tersebut, keutamaan sangat erat hubungannya dengan kesenangan dan kesusahan.
Akan tetapi, kita perlu menyadari bahwa lebih sulit melawan kesenangan dibanding melawan kemarahan. Hal ini tampak dalam kata-kata Heraclitus : baik keutamaan maupun kesenian berkaitan dengan apa yang lebih sulit, sebab kesuksesan jadi lebih baik jika lebih sulit. Dengan alasan ini juga, setiap budi yang baik tentang keutamaan maupun tentang politik harus berkenaan dengan kesenangan dan penderitaan. Jika seseorang bersikap tepat terhadap keduanya, ia akan menjadi baik, dan jika salah, penelitian itu akan menjadi buruk .
Heraclitus berpendapat bahwa mencapai sesuatu yang lebih baik misalnya keberhasilan atau kesuksesan dalam studi apalagi dalam dunia bisnis orang harus berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan hidupnya. Dari pendapat Heraclitus kita dapat melihat bahwa mencapai sesuatu yang lebih baik bukanlah hal yang mudah namun butuh perjuangan untuk melewati masa kritis tersebut meskipun itu sulit untuk dilalui. Dengan itu orang dapat mengetahui seperti apa masa kritis, dan seberapa besar kesulitan di dalamnya sehingga bisa menceritakannya kepada orang lain.
Pada dasarnya orang yang mengetahui hal tersebut lebih empati terhadap sesama yang mengalami kesulitan tersebut. Kesulitan tersebut merupakan batu loncatan untuk mencapai hasil yang memuaskan, akan tetapi kesulitan tersebut menjadi penghambat bila kita memandangnya sebagai hal yang mustahil untuk kita lewati. Orang yang berani menghadapi kesulitan, dan penderitaan akan mencapai keberhasilan yang memuaskan dan pada akhirnya dia merasa bahagia. Kebahagiaa adalah sebuah ativitas. Kebahagiaan merupakan sebuah aktivitas, dimana aktivitas tersebut merupakan sebuah tindakan untuk melakukan sesuatu yang benar tidak untuk menjadi bahagia, namun karena itu benar. Dan kebahagiaan itu harus dihasilkan lewat tindakan yang baik.
Menurut Aristoteles, pilihan pada prinsip moral yang ideal sering ditunjukkan dengan persepsi yang realistis bahwa manusia yang ideal tidak selalu hidup dalam standar yang demikian tinggi. Lagi-lagi, mungkin hal ini merupakan pertanyaan tentang keseimbangan. Jika kita betul-betul mementingkan diri sendiri, dan mengabaikan pentingnya prinsip-prinsip itu, maka kita mencipkan chaos dan tidak menemukan kebahagiaan. Tetapi bila kita terlalu perfeksionis, maka kita tidak bisa menghadapi dan berurusan dengan sifat mementingkan diri sendiri yang berprinsip kepada sasama manusi, bagaimana kita akan survive.
Kutipan di atas menunjukkan bahwa manusia yang ideal tidak dapat mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Kemampuan manusia pada umumnya terbatas akan tetapi selalu meminta lebih seperti contoh sebelumnya. Misalnya sudah ada dua minta tiga, sudah ada tiga minta empat, dan seterusnya dimana keinginan manusia itu begitu tinggi.

Sama halnya dengan para peneliti tata surya di angkasa raya, sudah sampai di atas bulan kepengen terbang ke matahari. Rasa ingin tahu manusia yang begitu besar apa pun dia lakukan untuk mencapainya meskipun itu susah, sulit, atau tidak berhasil sama sekali sehingga pada akhirnya manusia hanya berkutat pada kebahagiaan atau penderitaan. Setiap orang berbeda ada yang suka mencari dan terus mencari sesuatu hal yang ia pikirkan dan ada juga yang biasa-biasa saja. Setiap orang mempunyai caranya tersendiri untuk meraih dan mencapai apa yang ia impikan dan apa yang ia cita-citakan. Kebahagiaan juga mempunyai proses Apalagi kalau manusia mementingkan kepentingannya sendiri yang melawan kepentingan bersama. Dengan mementingkan diri sendiri orang cenderung tidak memperhatikan orang yang ada disekitarnya. Dan pada umumnya mementingkan diri sendiri tidak baik dalam sebuah komunitas atau pun dalam sebuah organisasi. Jika mementingkan diri sendiri berarti melalaikan kepentingan umum dan tentu juga hidup bersama dengan orang lain tidak terjamin. Justru kepentingan diri sendirilah yang membuat orang konflik antara yang satu dengan yang lain. Tetapi jika kita terbuka bagi orang lain dan lebih mementingkan kepentingan umum kita akan disenangi orang , hidup kita terjamin, dan merasa nyaman.
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa manusia yang ideal tidak dapat mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Kemampuan manusia pada umumnya terbatas akan tetapi selalu meminta lebih seperti contoh sebelumnya. Misalnya sudah ada dua minta tiga, sudah ada tiga minta empat, dan seterusnya dimana keinginan manusia itu begitu tinggi. Sama halnya dengan para peneliti tata surya di angkasa raya, sudah sampai di atas bulan kepengen terbang ke matahari.

Rasa ingin tahu manusia yang begitu besar apa pun dia lakukan untuk mencapainya meskipun itu susah, sulit, atau tidak berhasil sama sekali sehingga pada akhirnya manusia hanya berkutat pada kebahagiaan atau penderitaan. Setiap orang berbeda tidak selalu sama. Ini nampak dalam kehidupan kita sehari-hari ada yang suka mencari dan terus mencari sesuatu hal yang ia pikirkan dan ada juga yang biasa-biasa saja. Setiap orang mempunyai caranya tersendiri untuk meraih sesuatu dan mencapai apa yang ia impikan dan apa yang ia cita-citakan. Kebahagiaan juga mempunyai proses Apalagi kalau manusia mementingkan kepentingannya sendiri yang melawan kepentingan bersama.

Dengan mementingkan diri sendiri orang cenderung tidak memperhatikan orang yang ada disekitarnya. Dan pada umumnya mementingkan diri sendiri tidak baik dalam sebuah komunitas atau pun dalam sebuah organisasi. Jika mementingkan diri sendiri berarti melalaikan kepentingan bersama yang bersifat umum dan pengalaman hidup bersama dengan orang lain sangat minim dan bahkan hidupnya tidak terjamin. Justru kepentingan diri sendirilah yang membuat kita tidak sampai pada kebahagiaan yang luhur sebagaimana yang kita harapkan. Tetapi jika kita berbagi dengan orang lain dan lebih mementingkan kepentingan bersama (umum) kita semakin dewasa dan juga kelompok lebih memperhatikan kita seperti keluarga mereka. Dengan mementingkan hal-hal yang umum hidup kita terjamin dan merasa nyaman tinggal di bumi pertiwi ini.

hiawilhelmus@yahoo.com
famatihia

https://famatihia.wordpress.com

1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s