Filsafat

Sumber-sumber Kebahagiaan

Pikiran Pembanding

Perasaan puas kita sangat dipengaruhi oleh kecenderungan untuk melakukan pembandingan. Dalam kehidupan sehari-hari manusia merasa puas jika melakukan pembandingan. Contohnya soal gaji tahun ini lebih besar dibandingkan dengan gaji sebelumnya. Misalnya gaji dia tahun ini 20.000 Dolar, sedangkan tahun lalu 10.000 Dolar. Ketika dia membandingkannya seseorang puas dengan yang ia dapat. Jadi kita bisa melihat seperti apa rasa puas yang kita alami atas hidup ini yang selalu bergantung pada siapa yang kita jadikan pembanding.
Namun Dalai Lama menerangkan, walaupun kita bisa meraih kebahagiaan, kebahagiaan bukan sesuatu yang sederhana. Tingkatan-tingkatannya banyak. Dalam Biddhisme, misalnya, ada sebuah acuan untuk mengukur empat faktor kepuasan atau kebahagiaan : kekayaan,kepuasan duniawi, spiritualitas, dan pencerahan. Secara bersama semua ini mempengaruhi keutuhan kebahagiaan yang dicapai oleh seseorang.
Dalam konteks ini ada yang diakui untuk membentuk kegembiraan. Sebagai contoh, kesehatan yang dianggap sebagai salah satu faktor yang diperlukan untuk hidup bahagia. Sebagai faktor lain yang dianggap sebagai sumber kebahagiaan adalah kelengkapan materi yang dinikmati atau kekayaan yang dikumpulkan. Faktor lain lagi yakni persahabatan atau pertemanan dengan orang lain. Kita semua memerlukan tempat dimana kita menumpahkan emosi dan kepercayaan kita. Jadi semua faktor ini, merupakan sumber-sumber kebahagiaan. Akan tetapi cara kita untuk dapat memanfaatkan secara penuh ke arah sasaran untuk menikmati hidup yang bahagia dan memuaskan, sikap mental anda yang menjadi penentu utama. Perannya penting sekali.
Tanpa mental di atas akan memberi dampak kecil pada rasa bahagia yang bersifat jangka panjang. Bagaimana kita melihat semua yang kita miliki seperti kekayaan yang berlimpah, serta kesehatan jiwa dan raga. Sebenarnya itu hanya sarana untuk meraih kebahagiaan. Meskipun kita sudah menjadi kaya raya atau segala kebutuhan terpenuhi tidaklah menjamin kita utuk sampai pada kebahagiaan karena ada orang kaya yang hidupnya serba ada tetapi tidak bahagia. Bahkan hati dan pikiranya kemana-mana atau tidak tenang, serta hatinya penuh kebencian kepada sesama. Jadi bukanlah pada kelimpahan materi saja tetapi bagaimana kita memandang segala sesuatu yang kita miliki secara positif dengan itu kita dapat berbelaskasih kepada sesama yang ada disekitar kita. Jadi kita juga seharusnya menjalani yang namanya disiplin batin yang bisa mendatangkan kedamaian pikiran kita sehingga hidup kita tenang, dan damai.

Kepuasan Batin

Mencapai kepuasan batin ada dua macam yakni : yang pertama, mendapatkan apa pun yang kita inginkan dan dambakan misalnya uang yang banyak, rumah, mobil atau pun pasangan yang sempurna, dan tubuh yang sempurna. Dalai lama telah telah menunjukkan keburukan pendekatan ini, apabila keinginanan-keinginan dan hasrat kita tetap tidak terkendali, cepat atau lambat kita akan sampai pada sesuatu yang paling kita dambakan tetapi tidak dapat kita miliki. Yang kedua, yang lebih diandalkan adalah tidak memiliki yang kita inginkan tetapi megiginkan dan menghargai yang kita miliki.
Dalam hidup ini tidak semuanya keiginan kita dapat tercapai. Keinginan atau pun yang kita dambakan pada umumnya sifatnya relatif dan dinamis. Ketika seseorang menjadi juara dalam sebuah pertandingan tentu saja dia merasa puas dengan prestasi yang ia peroleh. Namun kepuasan itu tidak tetap untuk selamanya akan tetapi hanya sementara saja, bisa saja keinginan itu pada tahap berikutnya tidak tercapai misalnya keinginan untuk menang pada pertandingan selanjutnya tidak tercapai karena dia jatuh dan cedera parah bahkan cacat. Ketika dia cedera parah tentu saja mengalami perawatan yang intensif di rumah sakit.

Orang seperti ini pasti mengalami tekanan yang begitu mendalam untuk meraih kemenangan. Keiginan itu berubah menjadi depresi dan keputusaan. Akan tetapi pada akhirnya dia menerima keadaannya yang seperti itu, depresi dan keputusasaan hilang secara perlahan-lahan sampai pada taraf yang tinggi yakni dengan mensyukuri apa yang dia miliki, alami, karena dia masih hidup.

Harta Dalam Diri Sendiri

Kita telah menyaksikan bagaimana sikap mental kita merupakan alat yang lebih efektif dalam meraih kebahagiaan ketimbang mencarinya lewat sumber-sumber eksternal seperti kekayaan, kedudukan, atau bahkan kesehatan tubuh. Sumber eksternal lain untuk meraih kebahagiaan, yang erat kaitannya dengan rasa puas diri atau kepuasan batin, adalah rasa harga diri atau self-worth.
Kekayaan, dan sumber kebahagiaan lainnya harus dibagikan kepada sesama karena kekayaan dan sumber kebahagiaan lainnya itu tidaklah tetap, tetapi seperti roda yang terus berjalan ada saatnya berada di atas dan ada saatnya berada di bawah. Jika seseorang tidak memiliki teman atau sahabat hidupnya kurang terjamin karena saat dia jatuh menjadi miskin, tidak ada tempat baginya untuk meminta bantuan kepada orang lain. Ketika dia kehilangan semua yang dia miliki itu sangat sulit untuk dilewati karena tidak mempunyai sahabat ataupun teman sebagai penolong baginya.

Memang pada dasarnya orang yang kaya, orang tersebut memiliki rasa aman. Tetapi begitu kekayaan itu sirna. Orang tersebut akan menderita karena tidak mempunyai tempat pelarian lain. Jadi begitu tinginya nilai praktis kehangatan dan kasih sayang dalam mengembangkan rasa berharga dalam diri sendiri.

Kebahagiaan Versus Kesenangan

Pada dasarnya manusia sering merancukan kebahagiaan dan kesenangan. Kesenangan itu merupakan sesuatu hal yang sering dialami oleh manusia dimana ia berada. Misalnya ada yang mengatakan dia bahagia ketika melakukan hubungan seksual, bagi dia lewat seks ia paling bahagia. Disini orang sering jatuh karena tidak bisa melihat lebih jauh mana yang disebut dengan kesenangan dan mana yang disebut dengan bahagia. Kebahagian yang hanya bergantung pada kesenangan fisik tidak mantap karena kebahagiaan yang seperti itu hari ini mungkin kita rasakan besoknya tidak ada. Dalai Lama pernah mengatakan bahwa “kebahagian yang tertinggi adalah ketika seseorang mencapai tahapan pembebasan, ketika penderitaan tiada lagi. Itulah kebahagiaan yang asli, yang kekal.”
Kesenangan itu adalah bagian dari kebahagiaan. Akan tetapi kesenangan pada umumnya sifatnya sementara. Kesenangan berbeda dengan kebahagiaan dimana kebahagiaan itu tidak mengenal posisi atau jabatan baik itu posisi di atas atau di bawah tetap normal tidak mengelak dan selalu menerima apa yang dialami karena itu merupakan pengalaman yang sangat berharga yang tidak pernah terlupakan. Kebahagiaan yang kekal ketika manusia mencapai tahapan pembebasan. Ini merupakan suatu hal yang tinggi karena disana penderitaan sudah tidak ada lagi. Mendapat ketenangan batin, dan melakukan hal yang baik yang berkaitan dengan keutamaan. Akan tetapi kebahagiaan yang dimaksudkan oleh kalimat di atas tidaklah mudah karena kita tidak sempurna. Tapi bukan berarti kita merah begitu saja tetapi kita selalu berusaha dengan sekuat tenaga untuk sampai kesana. Kebahagiaan sejati lebih berhubungan dengan pikiran dan hati.
Kebahagiaan sejati merupakan tujuan setiap orang yang menjalani hidup di dunia ini. Ternyata sulit menemukan sebuah kondisi hati yang disebut bahagia. Kita harus pandai mengendalikan hati kita agar selalu ada pada kondisi nyaman, tenang, teduh, dan selalu bersyukur atas semua berkah yang sudah diterima, maka rasa bahagia bisa datang menghampiri. Rasa bahagia itu akan menetap, bila kondisi hati dan pikiran senantiasa berada pada posisi yang stabil.

Kebahagiaan muncul ketika kita memikirkan sesuatu yang baik atau memikirkan apa yang disebut dengan keutamaan, yang baik sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Jadi kebahagiaan yang sesungguhnya ada di dalam hati. Seseorang yang mengalami pengembangan pribadi yang positif jika perkembangan kepribadiaanya itu sesuai dengan hirarki kebutuhan. Ketika pribadi seseorang mencapai kesempurnaan berarti telah mencapai kebahagiaan yang sejati, dan pada akhirnya mencapai hirarki paling tinggi yakni memenuhi kebutuhan akan aktualisasi diri.

Relevansi Kebahagiaan Pada Masa Kini

Pada zaman ini terutama dalam kehidupan kita sehari-hari, pasti mengalami
kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Dalam hidup ini tidak selamanya kita bahagia ataupun menderita. Kedua hal tersebut mau tidak mau kita pasti mengalaminya. Sikap yang paling baik untuk menghadapi kedua hal tersebut di atas yakni menerimanya sebagaimana adanya. Kebahagiaan masyarakat pada masa kini ada yang melihat dari segi jabatan, kekayaan yang berlimpah, kesuksesan, prestasi yang diraih, dan kemampuan serta keterampilan yang handal. Orang merasa bahagia karena dia mendapat kehormatan, mempunyai kekayaan yang berlimpah, sukses dalam bisnis, berprestasi dalam pendidikan dan masih banyak contoh lainnya. Semua contoh di atas merupakan sumber-sumber kebahagiaan pada masa sekarang ini.
Tetapi kebahagiaan itu tidak selamanya, bisa saja orang yang hidupnya mewah saat ini belum tentu besok atau lusa jadi orang miskin. Jadi kebahagiaan itu sifatnya hanya sementara waktu yang akan digantikan oleh ketidakbahagiaan. Kebahagiaan dan penderitaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena orang bisa menemukan kebahagiaan dalam penderitaan contohnya ketika sakit parah. Orang sakit yang dirawat di rumah sakit pada umumnya berharap supaya penyakitnya cepat sembuh dengan obat medis. Meskipun penyakitnya itu dalam proses yang begitu lama dia percaya bahwa dia pasti sembuh. Ketika sembuh dia pasti brsyukur karena penyakitnya sudah tidak ada lagi. Pada waktu dia sembuh saat itu juga dia bahagia. Setiap orang apa pun yang dia alami atau yang dia rasakan itu pertama-tama diceritakan kepada keluarga, dan kepada teman dekatnya karena hanya orang-orang tersebut yang paling dekat dengannya. Kebahagiaan sangat baik jika kita membagikannya kepada sesama. Untuk itu kita juga harus tahu manfaat kebahagiaan pada masa kini atau pada masa sekarang.
Pada masa kini kebahagiaan dikaitkan dengan kesuksesan karena keberhasilan mengarah kepada kebahagiaan. Itu semua karena sikap positif manusia maksudnya suasana hati dan emosi yang memampukan manusia untuk berpikir, merasa, dan bertindak. Emosi positif menghasilkan kecenderungan yakni kepada pendekatan bukan untuk menghindari tetapi untuk mempersiapkannya. Setiap orang mempunyai tingkat emosi yang berbeda-beda. Emosi yang dimaksud adalah merupakan sebuah perjuangan seseorang untuk menghadapi dan mempersiapkan. Kebahagiaan juga muncul karena mendapat keuntungan hidup yang besar. Pada dasarnya masyarakat yang mempunyai usaha apa pun bentuknya lebih mencari keuntungan yang besar. Kodrat manusia memang seperti itu tidak mungkin orang yang mempunyai perusahaan menginginkan kerugian yang besar dan membiarkan usahanya bangkrut begitu saja. Saya rasa semua orang pasti menginginkan keuntungan yang besar untuk hidup di dunia ini.

hiawilhelmus@yahoo.com
famatihia

https://famatihia.wordpress.com

1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s