Perkembangan Bejana Dalam Gereja Katolik

liturgi

Perkembangan Bejana Abad Pertama Masehi

a) Bejana-Bejana

Bejana ini muncul dan berkembang luas. Masa ini ditandai dengan pemakaian bejana oleh orang-orang Yahudi dalam praktek upacara ibadat di Kuil atau Sinagoga. Upacara pemakain bejana dipahami orang-orang Yahudi sebagai pesta makan roti tak beragi dan minum anggur.

b) Roti dan Bejana

Kebudayaan Yunani pada saat pesta makan roti, roti ditempatkan pada papan roti. Contoh papan roti itu disimpan sampai saat ini, yang berasal dari masa kejayaan bangsa Yunani yang hancur oleh letusan gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi. Roti persembahan pada masa ini disebut Matzah. Roti yang dipersembahkan semuanya di makan oleh seorang imam. Pada hari raya Paskah, roti tak beragi berperan penting mengingat perayaan ini hanya berlangsung sekali setahun.

c) Anggur dan Bejana

Roti tak beragi dan anggur biasanya di simpan di rumah upacara. Di Palestina, anggur banyak digunakan sebagai bahan minuman anggur adalah anggur merah. Anggur biasanya disimpan di Tempayan atau kendi dan diletakkan di sebuah meja. Sementara yang berukuran besar di taruh di lantai. Air anggur yang disimpan pada bejana pada masa itu dikenal sebagai salah satu komoditas dalam komunitas Yahudi.

d) Pengaruh Budaya Bagi Liturgi Gereja

Pada masa ini budaya Yahudi dan Yunani cukup memberikan andil besar bagi Gereja dalam hal penggunaan bejana dan prakakas lainnya. Misalnya peristiwa Yesus dalam perjamuan makan malam terakhir dengan para murid-muridNya menjadi cikal bakal bagi Gereja dalam lahirnya perayaan ekaristi. Warisan penting dalam arti nilai rohani disini adalah bahwa roti yang dibagikan oleh Yesus dan anggur yang diberikan-Nya kepada para rasul merupakan lambang pemberian tubuh dan Darah-Nya bagi penebusan dosa-dosa dunia.

e) Cirikhas dan Keunikan Pada Periode ini

Periode ini unik memberikan gambaran dimana pada awal sejarahnya, bejana itu Masih berbentuk sederhana. Fungsi bejana masih terkesan biasa belum liturgis seperti masa sekarang ini. Bejana dipakai lebih sering dalam nuansa kebersamaan antara umat yang lain dan keluarga yang satu dengan yang lainnya. Bahan-bahan membuatnya pun masih sangat sederhana dan tidak terlalu mewah.

Perkembangan Bejana Tahun 100-313 Masehi

Roti dan Anggur

Pada masa ini orang-orang masih menggunakan jenis roti yang sama untuk perayaan ekaristi. Membuat roti dengan cara dibakar dan mengkonsumsinya di rumah. Anggur, cara membuatnya sangat tradisional dengan cara di peras di alat pemeras air anggur.

Penggunaan Roti dan Anggur Dalam Ekaristi

Pada masa ini roti dan anggur yang digunakan masih sama seperti yang biasa digunakan sebelumnya. Yang membedakan adalah alat-alat yang digunakan mengalami perkembangan dan perubahan bentuk. Perak, emas dan kaca dibuat sebagai alat-alat yang dibutuhkan dalam ekaristi. Misalnya sebagai bejana untuk roti dan gelas untuk anggur.

Roti Untuk Orang-Orang Sakit

Maksudnya roti ekaristi (Tubuh Kristus) yang di khususkan bagi umat yang berhalangan hadir dalam perayaan ekaristi. Yang diberikan oleh kaum tertahbis. Alat yang dipakai untuk menyimpan roti sangat sederhana yaitu di keranjang dahan yang di anyam, juga roti itu juga dibawa oleh para Misdinar yang ditaruh dalam kantong-kantong lenan. Jadang kala roti ekaristi disimpan pada sehelai kain yang kemudian disimpan dalam lemari atau kamar kecil.

Roti dan Anggur

Umat Kristiani pada periode ini sering merayakan ekaristi dengan roti dan anggur. Ada sesuatu yang tidak lazim dalam hal ini karena ada praktek pemakaian anggur diganti dengan air biasa. Sehingga muncul kelompok-kelompok yang menentang paraktek ini. Mereka percaya bahwa air yang digunakan dalam perayaan ekaristi haruslah dari anggur, sama seperti yang digunakan oleh Yesus dulu. Namun tertulianus, dia salah seorang penulis yang pertama dalam perjanjian baru yang menyebut cangkir dan piala sebagai alat-alat yang digunakan dalam ekaristi. Logam mulia adalah bahan yang paling kuat untuk pembuatan alat-alat ekaristi jika dibandingkan sengan batu, kayu, dan tulang. Alasan ini tentunya masuk akal dan semua orang pun agaknya tentang hal ini.

Pengaruh Budaya Bagi Liturgi Gereja

Kebudayaan Romawi pada masa ini berkembang dan cukup berpengaruh besar dalam kehidupan keagamaan dengan tekun baik di dalam persekutuan Gereja maupun dalam lingkungan masyarakat sekitar. Alat-alat liturgi gereja diusahakan keberadaannya secara lengkap guna memperlancar kegiatan peribadatan Kristiani. Jadi budaya Romawi masih mendominasi periode ini.

Cirikhas dan Keunikan Periode Ini

Rumah-rumah orang kaya menjadi alternatif pilihan yang bagus bagi kegiatan keagamaan, baik sebagai tempat pertemuan ataupun tempat devosi. Bejana-bejana dibuat masih dalam level sederhana, tetapi cukup beragam baik dalam segi bentuk dan bahan pembuat serta fungsinya.

 

Perkembangan Gereja Romawi Tahun 313-750 Masehi

Bejana

Pada periode ini ekaristi menjadi puncak inti kehidupan Kristiani, dimana umat Kristiani merayakan kurban Kristus sebagai upacara pengenangan akan karya keselamatan Allah. Penambahan waktu perayaan ini diperbanyak, dari yang hanya pada hari minggu saja, menjadi bisa dirayakan pada hari-hari biasa dalam sepekan. Doa komunal menjadi bentuk peribadatan yang marak pada masa ini, berupa doa atau ibadat pagi dan sore, serta devosi. Corak kekaisaran dalam hiasan-hiasan gereja semakin lazim dijumpai.

Roti dan Bejana

Pada abad ketiga ini roti dipergunakan untuk ekaristi dibawa oleh masing-masing umat dengan berbagai bentuk dan ukuran. Alasan yang mendasari hal ini kurang diketahui. Mungkin saja pada masa ini diberi kepercayaan untuk mempersiapkan dan menyediakan roti ekaristi. Bejana saat itu ada yang berupa Flat Disk (seperti  mahkota) sedangkan yang bentuk kecil bundar dihiasi oleh tanda salib di atasnya. Ketika umat membawa roti untuk ekaristi dengan cara membawanya sendiri, maka diperlukan keranjang besar untuk menampungnya. Pada saat ekaristi patena yang berbentuk seperti piring, (tempat hosti) terbuat dari bahan logam mewah dengan berat sekitar 30 ons, dan petugas yang membawa patena ini adalah seorang Akolit dan diletakkan di Altar. Contoh dari patena ini bisa kita lihat di gereja Lateran. Ada yang mengatakan patena itu berdiameter 24 inci. Data-data sejarah menyebutnya bahwa hosti kudus sering disimpan di Sakristi.

Anggur dan Bejananya

Anggur yang dipakai pada masa ini adalah anggur merah karena sebagai lambang darah Kristus sendiri. Lagi-lagi anggur dibawah oleh masing-masing umat ke dalam gereja sebagai perjamuan ekaristi.

Piala

Piala berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan anggur selama perayaan ekaristi berlangsung. Ukuran piala itu sendiri termasuk dalam kategori besar. Piala ini berbentuk Vase dengan gagang untuk pegangan, terbuat dari logam, kuningan, bebatuan hias, dan gading. Khusus untuk pemimpin ekaristi (imam) secara khusus disebut piala dengan ukuran kecil.

Botol (Cruets)

Botol ini biasa disebut Amula atau Urceola yang berfungsi untuk menempatkan anggur yang dipersembahkan oleh para umat dalam ekaristi. Terbuat dari logam yang dipercaya sebagai simbol kekudusan.

Pengaruh Budaya Bagi Liturgi Gereja

Pada periode ini budaya Romawi cukup kuat. Budaya Romawi dimasukkan dalam gereja pada masa kekaisaran Konstantinus Agung. Hiasan-hiasan dalam gereja dibuat semegah mungkin sesuai aura zaman ini. Alat-alat perayaan ekaristi diproduksi secara besar-besaran. Atas perintah kaisar Konstantinus Agung segala apa yang berhubungan dengan gereja hendaknya dibuat semegah mungkin, termasuk bejana di buat secantik mungkin.

Cirikhas Keunikan Periode Ini

Periode ini umat Kristiani mendapat perhatian dari pemerintah berkaitan dalam hal hidup menggereja. Kemegahan bentuk bangunan gereja dan keindahan alat-alat perayaan ekaristi (bejana) menjadi inspirasi bagi periode perkembangan hidup Gereja sesudahnya.

Periode Gereja Tahun 750-1075 (Dominasi Perancis)

Roti dan Bejana

Roti menjadi sakral kalau sudah berada di dalam gereja dan disucikan oleh seorang imam pada waktu perayaan ekaristi. Tradisi kuno menyebutnya bahwa roti ekaristi dibuat dalam bentuk piringan datar. Roti tak beragi digunakan dalam ekaristi sebagai pengenangan kembali akan kehidupandan kematian Yesus di Salib. Kenangan ini seperti yang terjadi pada pesta perjamuan makan malam terakhir Yesus dengan para murid-Nya. Periode ini penggunaan keranjang roti sebagai bejana ekaristi lambat laun mulai menghilang. Bahan-bahan untuk membuat Patena yakni emas dan perak. yang diletakkan di atas Altar selama ekaristi berlangsung berfungsi sebagai tempat hosti kudus  yang bentuknya kecil bagikaumawam dan hosti besar bagi imamnya. Pada masa ini siboridengan bentuk seperti Patena dan dikonsekrasikan sebelum digunakan dalam ekaristi.

Tabernakel

Tabernakel berfungsi sebagai tempat penyimpanan hosti kudus. Tabernakel yang dikenal sebagai Piksis ini biasanya ditempatkan di atas Altar degan cara di gantung. Setelah abad ke-9 berlalu, Piksis ini bentuknya dibuat menyerupai burung merpati. Karena Piksis ini merupakan primadona pada akhir abad pertengahan. Tabernakel ini sampai sekarang dalam gereja kita dapat melihatnya yang letaknya di didinding dan dihias dengan hiasan yang khusus.

Anngur dan Bejananya

Pada masa ini terjadi perubahan besar dimana umat biasa tidak lagi membawa roti untuk persembahan dalam ekaristi beserta anggurnya. Tugas ini diambil alih oleh para rahib dan kaum klerus. Rahib dan klerus mempersiapkan roti dan anggur yang dihasilkan dari kebun mereka sendiri.

Piala atau Cawan

Pada masa ini ukuran Piala diperkecil dari pada era sebelumnya, mengingat menurunnya jumlah persekutuan kaum awam serta prevalensi misa pribadi. Umat yang tidak menerima komuni secara otomatis mereka jarang pula meminum darah Kristus dari piala tersebut takut kalau-kalau Darah Suci Kristus ini tumpah. Bahannya yakni dari emas dan perak.

Tabung

Tabung merupakan alat baru yang berasal dari Roma sekitar abad ke-8. Fungsi dari tabung ini adalah untuk menerima komuni dari cangkir bagi umat yang mengikuti ekaristi kepausan. Lalau abad ke-13 hingga masa reformasi Vatikan II, tabung ini secara khusus dipakai oleh Paus dan Diakon dalam acara-acara khusus.

Pengaruh Budaya Liturgi Gereja

Budaya liturgi Roma cukup berpengaruh bagi kehidupan menggereja di Gereja Perancis. Perjamuan malam Yesus dengan para muridnya menjadi arah dasar sekaligus pokok bagi perkembangan penghayatan hidup Kristiani dalam dominasi Perancis.

Cirikhas dan Keunikan Periode Ini

Peran umatdalamekaristi mulai dibatasi. Peranan para Rahib dan para imam kembali mendominasi dalambidang spiritualitas perayaan ekaristi. Kehadiran yesus dalam rupa roti dan anggur dihayati secara nyata dan mendalam. Cara menerima hosti lain dari cara sebelumnya. Kalau sebelumnya memakai tangan, ssekarang memakai lidah. Tabung menggantikan cangkir dan gelas untuk minum Darah Kristus (anggur suci). Piala dan Patena melambangkan kehadiran nyata Yesus dalam persekutuan umat beriman Kristiani.

Periode Gereja Tahun 1073-1517

Bejana

Pada masa ini bejana mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bejana-bejana tersebut digunakan dalam perayaan ekaristi. Misalnya piala yang digunakan saat misa hanya satu. Tetapi sibori semakin ditambah karena jumlah umatnya banyak. Yang melatarbelakangi adalah pemikiran dan pemahaman bahwa umat sudah cukup menerima hosti saja tanpa anggur, sebab Tubuh Kristus sudah melambangkan darahnya pula.

Roti dan Bejananya

Pada masa ini hosti kudus bagi imam dan umat dibedakan secara terpisah. Hosti besar di khususkan bagi si imam dan hosti kecil diperuntukkan bagi umat yang hadir dalam ekaristi. Hal ini dimungkinkan karena alasan praktis saja yaitu supaya irit.

Sibori

Pada masa ini piksis digunakan hanya untuk mengantar komuni bagi orang yang berhalangan hadir dalam ekaristi, mungkin karena alasan sakit atau berada dalam sakratual maut atau kondisi kritis. Sibori ini disimpan dalam tabernakel.

Monstran

Monstran adalah sebuah bejana baru, yang berfungsinya untuk penghormatan (penyembahan) Sakramen Maha Kudus. Penyebabnya adalah Devosi kepada Sakramen Maha Kudus sangat kuat. Inspirasi pembuatan monstran ini adalah Kristus yang digambarkan sebagai Matahari Sejati, sehingga bentuknya pun menyerupai Matahari. Monstran ini disebut-sebut juga sebagai Relikwi.

Tabernakel dan Piala

Fungsi tabernakel adalah untuk menyimpan Sakramen Maha Kudus yang terdapat dalam Sibori. Pada masa ini dikenal ada dua macam model tabernakel. Yang pertama yaitu tabernakel permanent yang melekat pada tembok dan yang kedua tabernakel yang tidak permanent, yaitu di atas penyangga (mungkin meja atau tiang khusus). Tabernakel harus selalu di tutup dan di kunci rapat. Pialanya terbuat dari emas dan perak. Cuma bentuknya saja yang berbeda ada yang leher pialanya berbentuk persegi enam atau delapan, dan hiasan dari piala tersebut disesuaikan dengan bentuk bangunan gereja.

Pengaruh Budaya Bagi Liturgi Gereja

Budaya bisnis dalam lingkungan hidup Gereja mempengaruhi kebiasaan hingga saat ini. Dalam periode ini disediakan hosti untuk kebutuhan bersama dalam ekaristi. Munculnya sikap penghormatan Sakramen Maha Kudus menjadi Devosi yang dikenal terkenal hingga sekarang.

Cirikhas dan Keunikan Periode Ini

Menerima Hosti Kudus saja atau menerima Darah Kristus saja (anggur) mengandung implikasi hakikat rohani yang sangat mendalam, yaitu Yesus benar-benar hadir dan memberikan Tubuh dan Darah-Nya sendiri bagi keselamatan hidup manusia.

Periode Gereja Tahun 1517-1903

Bejana

Pada masa ini bentuk danukuran bejana disamakan dengan ukuran tempat yang digunakan. Piala, Monstran dan piksis dihias sesuai dengan gaya Gotik. Cirikhas dari bejana pada masa ini adalah gaya Baroque dan Rococo (gaya arsitekturnya yang berlebihan) serta di bumbui dengan bau-bau Gotik. Peraltan dalam ekaristi dihias secara indah dan mengagumkan.

Bejana Gereja Katolik

Setelah diadakan Konsili Trente tidak ada lagi model atau tipe baru perkembangan bejana dalam Gereja katolik Roma.

Tabernakel

Pada masa ini sebutan bagi bejana sudah lain sama sekali. Tabernakel tidak disebut sebagai bejana melainkan namanya sudah disatukan dengan corak dan elemen arsitektur bangunan gereja yang menempel pada bangunan gereja (menempel ditembok).

Piala dan Monstran

Pada masa ini keputusan-keputusan dari konsili Trente banyak memberikan perubahan dalam fungsi bejana. Bejana tidak lagi digunakan untuk komuni umat beriman. Bentuk dan ukuran piala dan monstran disesuaikan dengan kebutuhannya.

Bejana Protestan

Gereja Protestan pada masa ini mengalami perubahan dan perkembangan dalam keberadaan bejana-bejana. Bejana yang dibuat ini adalah bejana khusus yang berfungsi untuk menyimpan da membawa anggur sebelum dikonsekrir oleh imam. Salah satu namanya adalah Flagons yang fungsinya untuk menuangkan anggur ke Piala atau Cangkir.

Pengaruh Budaya Bagi Liturgi Gereja

Kebudayaan Roma kembali menggeliat dan semakin kuat kokoh berdiri. Gaya Baroque dan Rococo adalah dua gaya seni arsitektur yang menjadi simbol dari kemegahan kekaisaran Roma dulu.

Cirikhas dan Keunikan Periode Ini

Gereja Katolik tetap konsisten dalam mempertahankan keaslian atau originalitas kekatolikan terutama dalam pelengkapan ekaristi seperti bejana-bejana. Sedangkan Gereja Protestan kebalikan dari Gereja Katolik Roma.

Periode Gereja Tahun 1903 and Beyond

Bejana

Pada masa ini bejana mengalami metamorfosis. Metamorfosis ini adalah simbol dari semangat yang menggebu-gebu masalah penggunaan alat-alat misa. Bejana yang mengalami perubahan fungsi dan bentuk sangat dipengaruhi oleh Konsili Trente.

Roti dan bejana

Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1980 menetapkan bahwa secara harafiah roti nampak sebagai makanan biasa, yang hanya berisi tepung dan air selain itu tidak ada lagi. Yang paling penting adalah roti yang dipakai dalam misa harus nampak dalam bentuk nyata.

Anggur dan Bejana

Cawan dibuat dengan ukuran yang besar agar umat bisa ikut minum Darah Kristus seperti yang dilakukan oleh imam.

Pengaruh Budaya Bagi Liturgi Gereja

Bejana atau alat-alat ekaristi hanya sebagai alat dan bukanlah keindahan dari bejana itu kita mendapat kesucian.

Cirikhas dan Keunikan Periode Ini

Alat-alat misa hanya sebagai sarana dan simbol ritual kehadiran Nyata Kristus saat ekaristi

sumber: Age the age

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s