SIMAK

Setiap detik hidupmu!

Film “Arisan”

Posted by famatihia pada 15 Oktober 2011

Film yang disutradarai Nia Di Nata ini, dengan blak-blakkan mempertontonkan kehidupan kosmopolitan Jakarta. Bahkan film ini memperlihatkan dengan jelas adegan ciuman antara laki-laki dan laki-laki. Di samping itu, film ini juga menampilkan Ibu-ibu rumah tangga yang mencari laki-laki lain untuk melampiaskan masalah keluarga dan kehidupan mereka, baik itu melalui hubungan seks maupun dengan memamerkan kekayaan dan status sosial.

Interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam film ini, sebagian besar dilandaskan pada ketertarikan seksual dan memamerkan status. Ada keinginan untuk memenuhi hasrat dan dorongan nafsu untuk melakukan hubungan seks. Kebersamaan antara pria dan wanita terjalin berkat ketertarikan secara seksual atau kedudukan. Tampaknya tidak ada persahabatan yang betul-betul dilandasi oleh persahatabatan sejati. Meskipun ada hanya tampaknya hanya Sakti dan Meimei.

Film Arisan ini juga menjadi ajang berkumpul dan memperlihatkan kemapanan hidup keluarga-keluarga elit di Jakarta. Padahal di balik itu semua, mereka mempunyai masalah-masalah pribadi yang berusaha mereka tutupi. Misalnya apa yang terjadi pada pemeran utama yaitu, Sakti (Tora Sudiro) dari keluarga Batak, yang merupakan seorang gay. Ia berusaha menutupi keadaan dirinya karena malu. Apa kata orang tua, kalau diketahui bahwa ia seorang gay, padahal dalam keluarga Batak, anak laki-laki itu adalah harapan keluarga yang akan meneruskan marga. Pemeran lain adalah, Andien (Aida Nurmala) yang berusaha membalas dendam terhadap suaminya yang selingkuh dengan wanita lain, meskipun telah diakui secara jujur dan berjanji tidak akan mengulang lagi. Meimei (Cut Mini Theo) sahabat Sakti yang paling dekat, berusaha keras untuk memenuhi obsesinya yaitu memiliki anak. Baginya jika ia memiliki anak, suaminya yang pengacara itu akan kembali mencintai dia seperti dulu lagi.

Film yang memenangkan penghargaan “Terbaik Festival Film Indonesia 2004” ini juga mengisahkan bagaimana sikap orang tua Sakti saat mengetahui bahwa anak merka satu satu nya, yang di keluarga Batak tentunya sangat di butuhkan untuk meneruskan Marga.
Film ini memperlihatkan dengan jelas adegan ciuman antara Tora Sudiro sebagai Sakti dan juga Surya Saputra sebagai Nino, sungguh berani aktor aktor itu. Manusia tak ada yang sempurna, kira-kira itulah yang dapat kita lihat film ini. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita menjadi lebih bijak dalam menjalani semua kehendak Tuhan , untuk menjadi lebih baik, dalam memandang dan menyikapi segalah hal serta menjadi ” be yourself.

Film yang bagus, dan sangat indah di tonton, sangat menyentuh hati untuk para gay yang menontonya apalagi saat adegan pertama kali Sakti bertemu Nino serta disaat Nino ulang tahun, serta kecemburuan yang ada di hati Sakti ketika dia melihat Meimei jatuh hati ke Nino.

Film yang berdurasi 129 menit ini, juga menggambarakan kehidupan gay yang diperankan oleh Sakti, meskipun ia seorang gay, tetapi ia sebenarnya berusaha untuk hidup secara normal, karena itulah ia selalu kesal melihat realitas hidupnya yang adalah gay. Hal ini tampak saat mengunjungi psikaternya, Sakti sedikit marah dengan psikiternya karena setelah 7 kali pertemuan masih belum ada perubahan. Sakti mengeluhkan soal perasaannya yang sering saja masih tetab tertarik pada laki-laki. Sakti juga bercerita kalau dia sering berdegup kencang bila bertemu seorang laki-laki kekar di tempat fitnes.

Dapat dikatakan bahwa film yang dirilis pada tahun 2003 ini adalah representasi kehidupan real di kota-kota besar, khususnya di Indonesia yang selama ini tak pernah diekspos ataupun diperhatikan secara serius. Interaksi antara aktor dalam film itu adalah gambaran yang tak jauh berbeda dengan kehidupan sekarang ini. Mungkin hal itu-lah yang menjadi kekhasan film ini. Sutradaranya tidak segan-segan memgangkat isu-isu yang realistis dan apa adanya. Artinya tidak menutup-nutupi kejadian yang sesungguhnya.

Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »

Tritunggal

Posted by famatihia pada 8 Oktober 2011

Dari orang yang saya wawancarai semuanya orang katolik dan rata-rata sudah lama di babtis menjadi katolik. Saat wawancara mereka menceritakan pengalaman itu pada saya terutama pengalaman mereka kepada Tritunggal. Mereka menjawab pertanyaan saya dengan spontan bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan. Mereka melihat bahwa tritunggal itu bukan sesuatu hal yang mudah untuk dipahami. Dan bukanlah tiga hal yang terpisah atau tiga pribadi yang tidak berkaitan satu dengan yang lain. Bahkan mereka juga mengatakan Tritunggal itu bagi kaum awam sebagian besar kurang mengerti, memahami, apalagi menjelaskannya kepada orang lain tapi mereka tetap percaya sehingga mereka mempunyai iman akan Kristus.

Ketika saya menanyakan mana yang paling berpengaruh bagi hidup mereka tidak ada satu pun yang menyebut satu saja diantara ketiga pribadi itu. Mereka selalu mengatakan saya tidak bisa memilih salah satu diantara ketiganya karena tiga pribadi itu saling berelasi satu sama lain, Yesus diutus oleh Bapa karena cinta dan kasihnya kepada kita sebagai manusia, dan Roh Kudus itulah yang bekerja dalam karya-karya Yesus. Pendapat ini mengagetkan saya karena tanpa diduga ada orang yang bisa melihatnya lewat relasi, kasih dan cinta. Pendapat ini sama halnya dengan pendapat ”Rahner” yang mengatakan bahwa dalam Tritunggal itu sendiri ada mode, konsep (pribadi yang relasional), dan kasih (relasi). Karena kasih terjalin sebuah relasi yang baik. Sehingga Rahner berani mengatakan bahwa trinitarian tertinggi adalah kasih.

Berbicara tentang Tritunggal orang pada umumnya tidak bisa menjelaskannya secara detail. Penyebabnya karena kurang berpengetahuan atau mungkin juga karena tidak mempunyai pengalaman kepada Tritunggal. Orang yang mempunyai ilmu pengetahuan luas sekalipun masih kurang menjelaskannya kepada orang lain secara mendetail. Seseorang mungkin bisa menjelaskannya tapi hanya sebatas rasio saja. Sehingga Rahmer mengatakan Allah itu jangan dipikirkan secara rasional meluluh tapi marilah kita melihatnya sebagai kasih. Dan lebih parah lagi kalau seorang imam tidak bisa menjelaskan Tritunggal kepada umat. Dan efeknya, umat juga tidak bisa menjelaskannya kepada keluarganya.

Kalau ditanya, jawaban yang muncul adalah Tritunggal itu misterius (tidak bisa dijelaskan). Begitu juga yang saya alami ketika wawancara dengan seorang ibu jawabannya ”misterius” sulit untuk mengatakannya lewat kata-kata. Dan sebagai pendukung jawabannya dia memberi sebuah ilustrasi mengenai Agustinus yang sedang memutar otaknya untuk memikirkan Tritunggal, tanpa diduga ia bertemu seorang anak kecil yang sedang menggali lubang kecil di tepi pantai, Ketika Agustinus bertanya, apa yang sedang kamu lakukan anakku? anak itu menjawab: saya memindahkan air laut ini kedalam lubang kecil ini.

Hingga saat ini ajaran tentang Trinitas masih merupakan soal yang terus menerus dipersoalkan. Ini terjadi bukan saja diantara para teolog, gereja, tetapi juga terjadi dalam realitas kehidupan kemasyarakatan yang majemuk. Dan Trinitas itu hingga kini masih merupakan-misteri-iman. Menurut sejarahnya mulai dari jaman Bapa Gereja hingga situasi saat ini terdapat berbagai bentuk permainan dan perumusan kata yang dilakukan sebagai upaya perumusan konsepsi itu, sebagai suatu ajaran baku, tetapi kenyataannya tiap teolog besar yang datang dan pergi silih berganti belum mampu meninggalkan sebuah ajaran trinitas yang baku. Berbagai metode dan pendekatan yang ditawarkan, bagi kebutuhan teologi di masa itu dapat berguna, tetapi bagi masa kini maupun yang akan datang-tentu-tidaklah-sama-cara-pandangnya.

Untuk memuliakan Tuhan yang paling baik adalah mewartakan kasih Allah kepada orang lain, menyatakan namaNya, mewartakan kerahiman-Nya kepada dunia. Seluruh hidup kita harus diarahkan untuk memuliakan Allah. Oleh rahmat Tuhan kita diselamatkan dan juga kita diberi bagian di dalam karya penyelamatan. Itulah yang disebut imamat orang beriman, kita dapat mengambil bagian dalam karya Kristus bagi keselamatan dunia. Jika kita harus menanggung salib dan penderitaan, kita dapat mempersembahkannya untuk keselamatan banyak jiwa.

Karena Allah begitu mengasihi kita maka Dia mau menjadi manusia, dan di antara ketiga pribadi yang dapat menjadi manusia hanyalah Putera, tidak mungkin Roh Kudus atau Bapa yang menjelma menjadi manusia. Karena itu Santo Paulus mengatakan bahwa kita ini dijadikan anak-anak Allah di dalam Sang Putera oleh kuasa Roh Kudus. Jadi selalu setiap perbuatan ilahi adalah perbuatan Bapa, Putera dan Roh Kudus. Oleh karena itu karya keselamatan adalah karya Tritunggal Mahakudus, tetapi ada semacam apropriasi yaitu dikatakan bahwa Putera yang menebus manusia sebetulnya ialah Allah sendiri, tetapi ada apropriasi yang seolah-olah itu bagian Putera, ini bagian Roh Kudus, dan semua menuju kembali kepada Bapa sumber segala sesuatu.

Begitu luhur dan indah rahmat kehidupan kita. Oleh karena itu, jika menyadari semua ini kita juga dengan rela mau menanggung beban-beban dalam hidup ini. Kalau semua kita tanggung bersama Kristus, betapapun beratnya beban itu maka akan menjadi ringan. Oleh karena itu, kita mau menyerahkan semua bersama dengan Kristus, karenanya semua beban kalau kita terima dengan rela hati dan kita persembahkan, ini sebetulnya yang disebut kebijaksanaan para kudus.

Mempersembahkan semua beban dan penderitaan kepada Tuhan demi keselamatan jiwa-jiwa. Ini mempunyai dua keuntungan. Dengan kurban-kurban yang kelihatannya tidak berarti kita bisa menyelamatkan orang lain. Kedua jika kita bisa mempersembahkan beban-beban dan kesukaran kepada Tuhan, maka kita tidak akan merasakan beban itu dan bahkan yang dulunya menekan justru akan menimbulkan sukacita kalau kita persembahkan kepada Tuhan. Kalau kita mengeluh maka bebannya menjadi semakin berat, tetapi apabila beban berat itu dipersembahkan akan menjadi ringan. Jadi karena itu baiklah kita selalu hidup di dalam iman. Iman mampu melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh akal budi biasa.

Hasil wawancara Tritunggal oleh Wilhelmus Famati hia

Umur Lama babtis Jenis kelamin Agama
53 thn 43 thn Laki-laki Katolik
52 thn 25 thn Perempuan Katolik
56 thn 48 thn Laki-laki Katolik
60 thn 50 thn Laki-laki Katolik
58 thn 47 thn Perempuan Katolik
50 thn 33 thn Perempuan Katolik

Ditulis dalam sharing | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

TUHAN ADALAH ANDALANKU…..

Posted by famatihia pada 8 Oktober 2011

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN yang menaruh harapanya pada TUHAN !
Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ketepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”.
(Yeremia 17: 7-8)

Saudara/i terkasih, pada kesempatan ini izinkanlah saya menyampaikan sebuah perumpamaan sebagaimana tertera dalam Kitab Suci (Yer 17: 7-8). Saya mempunyai sebuah cerita yang berkaitan perikop di atas. Di sebuah daerah terpencil namanya Gomora. Dan disitu ada seorang anak yang namanya Rendy. Hampir setiap malam Rendy menerima telepon dari ibunya tentang permasalahan yang terjadi di rumah. Rendy hanya dapat mendengarkan betapa beratnya kondisi keluarganya. Peristiwa itu tampaknya mempengaruhi studi Rendy. Disemester pertama Rendy mendapat peringatan karena nilai studinya anjlok. Di saat yang sama, karya tulisnya pun ditolak dan harus dibuat dari awal dengan judul yang baru. Rendy harus memulai lagi semuanya dari awal. Rendy tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya mampu menahan tangis dan kegalauan dalam hatinya. Rendy mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan dan peran-Nya. “Di mana Dia saat aku sedang bingung seperti ini”. Rendy mulai lelah dan tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Di saat itulah Rendy menyadari bahwa di luar keterbatasannya itu sesungguhnya ada kemampuan yang tak terbatas yang hanya bisa dilakukan oleh Tuhan. Di sanalah Rendy sadar dan meminta maaf pada Tuhan bahwa selama ini ia hanya bertanya tanpa pernah mau mendengar dan menghadirkan Tuhan dalam setiap permasalahan hidupnya.

Di akhir semester Rendy terkejut. Nilai studinya membaik dan ia berhasil masuk kelas pilihan karya tulisnya pun selesai tepat waktu permasalahan keluarganya? Masih tetap menjadi cerita, namun Rendy sudah jauh lebih siap untuk menghadapinya. Lain Rendy, lain kita, lain juga permasalahan yang dihadapi. Namun, Tuhan tetap sama dan setia selama-lamanya. Ia selalu menanti kita kembali kepadanya dan memberkati kita yang senantiasa mengandalkan Dia. Sudakah kita mengandalkan Tuhan dalam hidup kita.

Saudara/i yang terkasih selalu menunggu kita. Dia selalu mengampuni dosa-dosa kita jika kita datang padanya. Marilah mengampuni sesama kita, sebagaimana Yesus memberikan contoh pada kita lewat perumpamaan di bawah ini:

“Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”(Mat 18: 21-22).

Mengampuni orang lain yang diajukan oleh Yesus Kristus adalah pengampunan tanpa batas, 70x7x…(tak terhitug banyaknya). Bisakah kita melakukannya? Tentu saja bisa kalau kita berusaha dengan sekuat tenaga. Marilah kita melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari terutama kepada sesama kita dimana pun kita berada.
Semoga kita semua dapat melakukannya setiap hari dengan bantuah Roh Kudus. Amin

Ditulis dalam sharing | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Perancis

Posted by famatihia pada 21 September 2011

Perancis adalah suatu negara besar dengan segala kebesaran dan juga tragedinya.Negara dengan penduduk lebih dari 55 juta ini, terletak di jantung Eropa.Bahasa Perancis adalah bahasa Internasional yang di pakai oleh lebih dari 60 juta orang di seluruh dunia, terutama di negara Perancis, Belgia,beberapa negara di kawasan Afrika Barat, Haity, dan juga kawasan jajahan Perancis di Pasific.

Bahasa Perancis adalah bahasa pengantar resmi yang di gunakan Masyarakat Uni Eropa juga bahasa pengantar resmi di PBB, bersanding dengan bahasa besar lainnya.Banyak orang yang mengenal Perancis dari Parfum dan juga modenya, seperti Versace.Padahal Perancis memiliki tehnology tinggi yang dalam beberapa segi tidak kalah dengan negara USA, seperti tehnology otomotive dengan TGV nya/kereta cepat, pesawat Airbus,tehnology telekomunikas, etc.Jangan lupakan juga bahwa bangsa Perancis juga memiliki industri mobil yang canggih, seperti mobil Renault yang telah memenangkan balapan F1 pada tahun 2006 Negara Perancis juga terkenal akan para penulisnya, seperti Victor Hugo.Negara Perancis adalah salah satu pendiri dari Uni Eropa, salah satu dari anggota G8, salah satu negara Industri terkemuka.

Negara Perancis adalah salah satu negara yang berani mengkritik USA, serta menolak keinginan USA untuk menggirimkan pasukan ke Irak dalam rangka melucuti senjata pemusnah massal Irak ( ternyata tidak terbukti adanya senjata pemusnah massal di Irak).Selain dari itu, negara Perancis adalah salah satu anggota dari Dewan Keamanan PBB, yang memiliki hak veto. Negara Perancis juga salah satu anggota dari Paris Club yang memberikan bantuan keuangan kepada negara berkembang.

Perang Dunia II

Perang Dunia II mulai berkecamuk di Eropa dengan dimulainya serangan ke Polandia pada 1 September 1939 yang dilakukan oleh Hitler dengan gerak cepat yang dikenal dengan taktik Blitzkrieg, dengan memanfaatkan musim panas yang menyebabkan perbatasan sungai dan rawa-rawa di wilayah Polandia kering yang memudahkan gerak laju pasukan lapis baja Jerman serta mengerahkan ratusan pembom tukik yang terkenal Ju-87 Stuka.

Polandia yang sebelumnya pernah menahan Uni Soviet di tahun 1920-an saat itu tidak memiliki kekuatan militer yang berarti. Kekurangan pasukan lapis baja, kekurang siapan pasukan garis belakang dan koordinasinya dan lemahnya Angkatan Udara Polandia menyebabkan Polandia sukar memberi perlawanan meskipun masih memiliki 100 pesawat tempur namun jumlah itu tidak berarti melawan Angkatan Udara Jerman “Luftwaffe”.

Perancis dan kerajaan Inggris menyatakan perang terhadap Jerman pada 3 September sebagai komitment mereka terhadap Polandia pada pakta pertahanan Maret 1939.
Setelah mengalami kehancuran disana sini oleh pasukan Nazi, tiba tiba Polandia dikejutkan oleh serangan Uni Soviet pada 17 September dari timur yang akhirnya bertemu dengan Pasukan Jerman dan mengadakan garis demarkasi sesuai persetujuan antara Menteri Luar Negeri keduanya, Ribentrop-Molotov.

Akhirnya Polandia menyerah kepada Nazi Jerman setelah kota Warsawa dihancurkan, sementara sisa sisa pemimpin Polandia melarikan diri di antaranya ke Rumania. Sementara yang lain ditahan baik oleh Uni Soviet maupun Nazi. Tentara Polandia terakhir dikalahkan pada 6 Oktober. Jatuhnya Polandia dan terlambatnya pasukan sekutu yang saat itu dimotori oleh Inggris dan Perancis yang saat itu dibawah komando Jenderal Gamelin dari Perancis membuat Sekutu akhirnya menyatakan perang terhadap Jerman.

Namun juga menyebabkan jatuhnya kabinet Neville Chamberlain di Inggris yang digantikan oleh Winston Churchill. Ketika Hitler menyatakan perang terhadap Uni Soviet, Uni Soviet akhirnya membebaskan tawanan perang Polandia dan mempersenjatainya untuk melawan Jerman. Invasi ke Polandia ini juga mengawali praktik-praktik kejam Pasukan SS dibawah Heinrich Himmler terhadap orang orang Yahudi.

Perang Musim Dingin dimulai dengan invasi Finlandia oleh Uni Soviet, 30 November 1939. Pada awalnya Finlandia mampu menahan pasukan Uni Soviet meskipun pasukan Soviet memiliki jumlah besar serta dukungan dari armada udara dan lapis baja, karena Soviet banyak kehilangan jendral-jendral yang cakap akibat pembersihan yang dilakukan oleh Stalin pada saat memegang tampuk kekuasaan menggantikan Lenin. Finlandia memberikan perlawanan yang gigih yang dipimpin oleh Baron Carl Gustav von Mannerheim serta rakyat Finlandia yang tidak ingin dijajah.

Bantuan senjata mengalir dari negara Barat terutama dari tetangganya Swedia yang memilih netral dalam peperangan itu. Pasukan Finlandia memanfaatkan musim dingin yang beku namun dapat bergerak lincah meskipun kekuatannya sedikit (kurang lebih 300.000 pasukan). Akhirnya Soviet mengerahkan serangan besar besaran dengan 3.000.000 tentara menyerbu Finlandia dan berhasil merebut kota-kota dan beberapa wilayah Finlandia. Sehingga memaksa Carl Gustav untuk mengadakan perjanjian perdamaian.

Tanggal 10 Mei tahun 1871, menyusul kekalahan tentara Perancis dari Jerman pada perang yang berlangsung sebelumnya, kedua negara menandatangani perjanjian damai di kota Frankfurt, Jerman. Berdasarkan perjanjian itu, Perancis diwajibkan membayar ganti rugi perang sebesar satu juta frank kepada Jerman. Selain itu, Perancis juga diharuskan menyerahkan sejumlah kawasan koloninya seperti Strasburg dan Alsas kepada Jerman. Perjanjian tersebut semakin mengukuhkan Kanselir Jerman Bismark sebagai orang kuat Jerman, dan negara bangsa Aria itu juga semakin memperlihatkan diri sebagai imperium sangat besar di Benua Eropa. Perjanjian damai antara kedua negara itu ternyata tidak mengakhiri konflik antara Paris dan Berlin. 69 tahun kemudian, Jerman dan Perancis juga terlibat perang secara langsung sebagai dua pihak yang bersengketa dalam Perang Dunia II. Saat itu, pasukan Jerman di bawah komando Hitler membombardir kota Paris dari udara. Akibatnya, untuk beberapa waktu, Paris diduduki oleh pasukan Nazi Jerman.

Polisario Dideklarasikan

Tanggal 10 Mei tahun 1973, sebuah organisasi pembebasan kawasan Sahara Barat di utara Afrika bernama Polisario dibentuk. Organisasi yang bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan kawasan Sahara Barat dari koloni Spanyol itu mendapatkan sambutan meluas dari masyarakat setempat. Kuatnya dukungan masyarakat atas organisasi ini sampai menyebabkan tentara Spanyol angkat kaki dari Sahara Barat dua tahun berikutnya, yaitu tahun 1975.

Tahun itu pula, Spanyol menyerahkan kekuasaan atas Sahara Barat kepada Maroko dan Mauritania. Namun, akibat tekanan sejumlah pihak luar, Mauritania kemudian menyatakan tidak bersedia menerima penyerahan itu. Maroko yang menerima penyerahan kekuasaan dari Spanyol langsung melakukan penyerangan ke kawasan Sahara Barat untuk menaklukannya. Serangan itu kemudian terbentur perlawanan gigih Polisario yang didukung oleh rakyat.

Tahun 1991, PBB datang menengahi konflik antara Maroko dan Polisario, dan kedua pihak sepakat untuk menyerahkan nasib kawasan Sahara Barat pada sebuah referendum. Akan tetapi, kesepakatan itu juga tidak bisa diimplementasikan gara-gara kedua pihak berselisih pendapat secara tajam mengenai syarat-syarat peserta referendum. Hingga kini, referendum itu masih belum bisa dilaksanakan. Status Sahara Barat pun hingga kini masih mengambang, meskipun sejumlah besar negara mengakui kemerdekaan Sahara Barat dan menyebut Polisario sebagai representasi sah rakyat di kawasan itu.

Pertempuran El Alamein Pertama dan Kedua

Crusader tank Britania melewati Panzer IV Jerman yang terbakar di tengah gurun. Pertempuran El Alamein Pertama terjadi di antara 1 Juli dan 27 Juli 1942. Pasukan Jerman sudah maju ke yang titik pertahanan terakhir sebelum Alexandria dan Terusan Suez. Namun mereka telah kehabisan suplai, dan pertahanan Inggris dan Persemakmuran menghentikan arah mereka. Pertempuran El Alamein Kedua terjadi di antara 23 Oktober dan 3 November 1942 sesudah Bernard Montgomery menggantikan Claude Auchinleck sebagai komandan Eighth Army. Rommel, panglima cemerlang Korps Afrika Tentara Jerman, yang dikenal sebagai “Rubah Gurun”, absen pada pertempuran luar biasa ini, karena sedang berada dalam tahap penyembuhan dari sakit kuning di Eropa.

Montgomery tahu Rommel absen. Pasukan Persemakmuran melancarkan serangan, dan meskipun mereka kehilangan lebih banyak tank daripada Jerman ketika memulai pertempuran, Montgomery memenangkan pertempuran ini.
Sekutu mempunyai keuntungan dengan dekatnya mereka ke suplai mereka selama pertempuran. Lagipula, Rommel hanya mendapat sedikit atau bahkan tak ada pertolongan kali ini dari Luftwaffe, yang sekarang lebih ditugaskan dengan membela angkasa udara Eropa Barat dan melawan Uni Soviet daripada menyediakan bantuan di Afrika Utara untuk Rommel.

Setelah kekalahan Jerman di El Alamein, Rommel berpendapat bahwa berhasilnya Rommel pada penarikan strategis Korps Afrika dari Mesir lebih mengesankan daripada kemenangannya yang lebih awal, termasuk Tobruk, karena dia berhasil membuat seluruh pasukannya kembali utuh, melawan keunggulan udara Sekutu dan pasukan Persemakmuran yang sekarang diperkuat oleh pasukan AS.

Pada tahun 1942: Operasi Obor (Torch Operation), Afrika Utara Perancis. Untuk melengkapi kemenangan ini, pada 8 November 1942 dilancarkanlah Operasi Obor (Operation Torch) dibawah pimpinan Jendral Dwight Eisenhower. Tujuan utama operasi ini adalah merebut kontrol terhadap Maroko dan Aljazair melalui pendaratan simultan di Casablanca, Oran, dan Aljazair, yang dilanjutkan beberapa hari kemudian dengan pendaratan di Bône, gerbang menuju Tunisia. Pasukan lokal di bawah Perancis Vichy sempat melakukan perlawanan terbatas, sebelum akhirnya bersedia bernegosiasi dan mengakhiri perlawanan mereka.

Tahun 1943: Kalahnya Korps Afrika

Korps Afrika tidak mendapat suplai secara memadai akibat dari hilangnya pengapalan suplai oleh Angkatan Laut dan Angkatan Udara Sekutu, terutama Inggris, di Laut Tengah. Kekurangan persediaan ini dan tak adanya dukungan udara, memusnahkan kesempatan untuk melancarkan serangan besar bagi Jerman di Afrika. Pasukan Jerman dan Italia terjepit di antara pergerakan maju pasukan Sekutu di Aljazair dan Libya. Pasukan Jerman yang sedang mundur terus melakukan perlawanan sengit, dan Rommel mengalahkan pasukan AS pada Pertempuran Kasserine Pass sebelum menyelesaikan pergerakan mundur strategisnya menuju garis suplai Jerman. Dengan pasti, bergerak maju baik dari arah timur dan barat, pasukan Sekutu akhirnya mengalahkan Korps Afrika Jerman pada 13 Mei 1943 dan menawan 250.000 tentara Axis.

Setelah jatuh ke tangan Sekutu, Afrika Utara dijadikan batu loncatan untuk menyerang Sisilia pada 10 Juli 1943. Setelah merebut Sisilia, pasukan Sekutu melancarkan serangan ke Italia pada 3 September 1943. Italia menyerah pada 8 September 1943, tetapi pasukan Jerman terus bertahan melakukan perlawanan. Roma akhirnya dapat direbut pada 5 Juni 1944.

wilhelmus famati hia

Ditulis dalam Film | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Nias Kantong Anak-anak Bergizi Buruk

Posted by famatihia pada 24 Juli 2011

Jumat, 22/07/2011 14:56 WIB

AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

Jakarta, Kemiskinan adalah faktor utama yang memicu tingginya kasus gizi buruk di Kabupaten Nias, Sumatera Utara. Ekonomi yang lemah berdampak pada faktor lain yang memperparah gizi buruk, termasuk pengetahuan soal pentingnya gizi yang baik.

Data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2011 menunjukkan, Provinsi Sumatera Utara memiliki prevalensi atau angka kejadian gizi buruk sebesar 7,8 persen dan gizi kurang 13,5 persen. Meski bukan yang tertinggi di Indonesia, angka ini cukup besar di wilayah Sumatera.

Dari berbagai wilayah di Provinsi Sumatera Utara, kasus gizi buruk dan gizi kurang paling banyak ditemukan di Kabupaten Nias. Selain karena sanitasi dan asupan nutrisi yang buruk, kemiskinan disebut-sebut sebagai faktor paling dominan di wilayah ini.

Hal itu diakui oleh dr Monica Sahertian, dokter sekaligus relawan Obor Berkat Indonesia yang merupakan pelaksana lapangan program Tango Peduli Gizi di Nias. Menurutnya, banyak faktor pemicu gizi buruk yang hampir semuanya terkait dengan faktor ekonomi.

“Pasien kami rata-rata berpenghasilan Rp 200-300 ribu/bulan. Faktor ini menyebabkan pengetahuan masyarakat tentang gizi, serta perilaku hidup bersih di Nias relatif rendah,” ungkap dr Monica usai peluncuran program Tango Peduli Gizi 2011 di Pejaten Village, Jakarta Selatan, Jumat (22/7/2011).

Menurut dr Monica, warga Nias banyak yang beranggapan makan nasi saja sudah cukup bagi anak balita. Akibatnya anak-anak jarang mendapat asupan sayur, protein baik nabati maupun hewani sehingga wajar jika banyak di antaranya yang akhirnya kurang gizi.

Sebagai solusi jangka pendek, dr Monica mengatakan program Pemberian Makanan tambahan (PMT) selama 3-4 bulan seperti yang dilakukan dalam Tango Peduli Gizi ini cukup efektif. Namun program semacam itu harus terus menerus, karena jika dihentikan maka dalam beberapa bulan status gizinya akan kembali seperti semula.

Untuk memberikan solusi jangka panjang, masyarakat juga harus mendapat penyuluhan mengenai pentingnya gizi dan cara mengolah makanan yang benar. Demikian juga soal kebersihan, sanitasi yang baik harus diupayakan sesuai dengan kemampuan ekonominya.

“Rumah-rumah warga di Nias banyak yang tidak sehat, ukurannya cuma 3×3 meter untuk dihuni satu keluarga yang terdiri dari 4-5 orang. Alasnya masih tanah dan sanitasinya buruk karena memang tidak mampu membuat rumah yang lebih bagus” ungkap dr Monica.

(up/ir)

Redaksi: redaksi[at]detikhealth.com
Informasi pemasangan iklan
Ines – 7941177 ext.523
Elin – 7941177 ext.520
email : iklan@detikhealth.com

Ditulis dalam sharing | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Doa dalam Bahasa Sunda

Posted by famatihia pada 23 Juli 2011

Cara 1

Sateuacan tuang

P : Nun Gusti nu Mahasae, abdi sadaya bade tuang. Nanging sateuacana abdi muji sukur tina samudaya kasaean Gusti, anu parantos dipaparinkeun ka abdi sadaya.
U : Bukakeun lawang hate abdi sadaya, supados tiasa nampi ieu berkah kalawan hate nu pinuh ku rasa tumarima sareng kagumbiraan. Ku jalaran Kristus abdi sadaya. Hamin

Saparantos tuang

P : Nun Gusti unggal-unggal tuangeun disadiakeun, supados tiasa masihan kakiatan ka abdi sadaya dina ngajalankeun tugas sadidinten.
U : Abdi manuhun, mugia Roh Gusti tetep ngancik dilebet hate abdi sadaya; tiasa nyaangan tekad, ucap sareng lampah. Kukituna padamelan abdi sadaya leres-leres janten pangbakti suci ka Gusti, anu jumenang sareng nyakrawati, ayeuna sareng kanggo salalamina langgeng. Hamin

Cara 2

Sateuacan tuang

P : Samudaya ciciptan, nun Gusti, janten buktos kamirahan berkah Gusti.
U : Berkahan abdi sadaya anu sami kempel dina riungan tuang ieu, supados kiat jagjag, caang mamanahan, sareng satia dina enggoning ngabdi Gusti sareng sasamina. Disarengan ku hate anu tawekal, mugi abdi sadaya tetep ngajeng-ngajeng kasalametan langgeng di Sawarga. Ku jalaran Kristus Gusti abdi sadaya. Hamin

Saparantos tuang

P : Nun Rama nu Mahamulya, Gusti parantos maparin tuangeun sareng leueuteun ka sadaya mahluk, supados ku kituna nami Gusti dimulyakeun kalayan hormat, ku tembang sareng pupujian. Gusti oge parantos maparin ka abdi sadaya, tuangeun sareng leueuteun rohani, ku perantawisan Yesus Kristus, Putera Gusti
U : Sembah syukur, hormat sareng pujian, ka sanggakeun ka Gusti, ayeuna sareng kanggo salalamina langgeng. Hamin

Cara 3

Sateuacan tuang

P : Gusti nu Maharahim, Gusti mikaasih sadaya ciciptan. Tina kamirahan Gusti, abdi dipaparin tuangeun sareng leueuteun anu matak wareg sareng nyugemakeun.
U : Berkahan nun Gusti ieu riungan tuang kitu deui sadaya jalmi anu parantos nyayagikeunana. Berkahan oge sadaya wargi, nu tebihna sareng nu caketna. Paparin kasugemaan sareng rejeki anu pecekapeun, utamina kanu nuju nandang kakirang. Kujalaran Kristus Gusti abdi sadaya. Hamin

Saparantos tuang

P : Gusti, abdi sadaya muji syukur, Gusti parantos mintonkeun kasaean ka abdi sadaya.
U : Mugi abdi sadaya leres-leres tiasa muji syukur sanes bae ku ucap nanging oge ku laku lampah sareng bebeneran. Margi mung ku jalan kitu, abdi sadaya tiasa ngalaksanakeun Dawuhan Gusti. Paparin abdi hate tinarbuka, supados tiasa leres-leres bela kanu nuju tunggara ku jalaran Kristus, Gusti abdi sadaya. Hamin

Cara 4

Sateuacan tuang

P : Nun Gusti nu maha welas, nya Gusti sumber hirup sareng kasalametan abdi sadaya. Gusti maparin rahmat, supados abdi sadaya tiasa didamel sareng nyampurnakeun alam ciciptan Gusti.
U : Mugi ieu tuangeun sareng leueuteun tiasa masihan kakiatan ka abdi sadaya, supados abdi tiasa ngalaksanakeun pangersa Gusti kalawan satia, kanggo kamulyaan Gusti sareng kasalametan abdi sadaya. Kujalaran Kristus Gusti abdi sadaya. Hamin

Saparantos tuang

P : Puji syukur kasanggakeun ka pangkonan nun Rama. Gusti taya kendatna nangtayungan abdi sadaya siang kalawan wengina. Mugi kamirahan Gusti anu parantos katampi tiasa janten pangjurung abdi kanggo didamel soson-soson, bari ngajeng-ngajeng sumpingna kerajaan sawarga.
U :Kana pangraksa Gusti, abdi sadaya mercantenkeun jiwa jiwa raga abdi. Margi nya Gusti ti kala mulana keneh janten awal sareng tujuan hirup abdi sadaya. Pinuji Gusti anu jumeneng sareng nyakrawati ayeuna sareng kanggo salalamina langgeng. Hamin

Cara 5

Sateuacan tuang

P : Nun Allah, Rama nu Mahakawasa, jalran kawasa Gusti abdi usik sareng rumingkang. Nya Gusti nu ngadalian gerakna jaman.
U : Mugi Gusti nyugemakeun sadaya jalmi anu usahana, supados tiasa mendak pirejekieuanana anu picekapeun. Paparin kasadaran yen dina saniskantenna anging pangersa Gusti anu kedah diutamikeun. Gusti anu mulya sareng kawasa ayeuna sareng kanggo salalamina langgeng. Hamin

Saparantos tuang

P : Nun Gusti Yesus Kristus, Gusti parantos mintonkeun kasatiaan anu sampurna kana pangersa Rama.
U : Mugi roh kasatiaan Guti ngacik dina diri abdi, supados abdi sadaya oge tiasa ngawula Rama kalayan satia dugi tutasna. Pinuji Gusti Yesus Kristus, anu jumeneng sareng Rama dina satunggalan sareng Roh Suci ayeuna sareng kanggo salalamina langgeng. Hamin

Cara 6

Sateuacan tuang

P : Pangeran sipat welas sipat asih, sabar taya papadana sarta jembarkurniaNa.
U : Kasaean Pangeran tumerap kasadayan, rahmatNa ngauban saneskanten dadamelanana
P : Pangeran nuyun nu lalabuh, nunjang kanu kumorondang.
U : Panon sadaya museurkeun harepanana ka Gusti, sarta dina waktosna ku Gusti dipaparin tedaeun
P : Panangan Gusti salamina buka, kersa nyumponan kabutuh sugrih nu kumelip
(Mzm 145:8-9. 14-16 Pujian kana kaagungan sareng kasaean pangeran)

Saparantos tuang

P : Jalan Pangeran kabeh sarwa adil, sugri anu dipidamelNa nawiskeun kasucian manahna.
U : Pangeran salawasna caket ka jalma anu nyambat, ka sakabeh, anu enya-enya sumambatna.
P : Mantenna tangtu ngabulkeun panuhun jalma anu miwedi; kersa ngadangu nulung sing sakur anu jumerit ka Mantenna.
U : Mantenna rumawat ka sakur nu micinta Sali raNa. Sabalikna nu doraka mah ku Mantenna dibasmi.
P : Biwir kaula moal kendat muji ngagungkeun Pangeran, sing sakur nu kumelip masing ngamulyakeun kana jenengaNa nu suci sapapanjangna. (Mzm 145:17-21)

Cara 7
Sateuacan tuang

P : Pangeran teh Gusti pangangon abdi, abdi hamo kakirangan.
U : Abdi diaubkeun disampalan hejo ngemploh, dicandak kasisi cai nu leuleuy.
P : Ku mantena disegerkeun, ditegerkeun dituyun kana jalan bener.
U : Najan nurunan jungkrang ku lewang lungkawing, nanging teu inggis aya bahaya, margi Gusti nu ngajaring; gada sareng tetekan Gusti perbawana tiis ati.
P : Gusti ngabageakeun abdi ku rupi-rupi idangan, dina biwir mata nu jaradi lawan;sirah ku Gusti dikecrotan minyak, leueuteun lubur leber.
U : Estu abdi the diasih diajap-ajap ku rahmat, unggal-unggal dinten, saumur hirup; tur baris tetep tumetep matuh dipadamelan Pangeran sapanjang gumelar. (Mzm 23: 1-6 Pangeran Gusti Pangangan)

Saparantos tuang

P : Estu Pangeran teh welasasih lautan kurnia, sabar adil palamart, serta jembar hampurana.
U : Tara terus nyeuseul bae salawasna tara terus bendu bae salalanggengna.
P : Ngahukuman ge tara diukur-ukur kana dosa urang, tara diijir-ijir kana kadorakaan urang
U : Malah saenyana mah, sakumaha jauhna tanah ka langit, nya sakitu rosana kawelasannana ka sakur anu wedi ka Mantena teh
P : Sakumaha anggangna kulon ti wetan, kamasiyatan urang oge sakitu dijauhkeunana ti diri urang.
U : Sakumaha hiji bapa mikarunya ka anakna, Pangeran ge welas ka sakur anu wedi ka Mantena. (Mzm 103: 1-3 Pangeran mulya karana sih kurniaNa).

Cara Liturgi A

Sateuacana tuang

Nun Gusti, berkahan abdi sadaya sareng ieu tuangeun nugraha ti Gusti, nu bade ditampi ku abdi sadaya jalaran kamirahan Gusti. Pinuji Yesus Kristus salalamina langgeng. Hamin
Kanjeng Rama………………
Mugi-mugi Gusti Allah, nu mahaluhung tur Mulya, maparin tempat ka abdi sadaya dina salametan suci di sawarga. Hamin

Saparantos tuang

Nun Gusti, Allah nu Mahakawasa, abdi sadaya ngahaturkeun sembah nuhun tina samudaya kamirahan anu parantos katampi. Gusti anu jumeneng sareng nyakrawati ayeuna sareng kanggo salalamina langgeng. Hamin
Semgah Baktos……………..
Mugi jiwa jalmi-jalmi nu ariman tiasa rereb kalayan tengtrem jalaran kamirahan Gusti. Hamin

Cara Liturgi B

Sateuacana tuang

Nun Gusti mugia berkahan ieu jamuan: tuangeun sareng leueuteun anu janten buktos kasaean Gusti ka abdi sadaya. Kitu deui mugi Gusti ngaberkahan jalmi-jalmi anu parantos nyayagikeun ieu sadaya. Paparin tedaeun ka wargi-wargi anu kiwari nandang ka kirang. Ku jalaran Kristus Gusti abdi sadaya

Saparantos tuang

Gusti, nu sipat mirah sareng asih, abdi sadaya parantos nampi jamuan sareng ngahaturkeun rebu nuhun kanu parantos nyayagikeun. Rama di Sawarga, abdi sadaya ngahaturkeun rebu syukur sareng mumuji Gusti dinten ieu sareng kanggo salalamina langgeng. Hamin

Cara Liturgi C

Sateuacana tuang

Nun Rama nu linggih di sawarga berkahan abdi sadaya sareng ieu nugraha ti Gusti anu bade ditampi jalran kamirahan Gusti ku perantawisan Yesus Kristus Gusti abdi sadaya.
• Gusti mugi mikawelas ka abdi sadaya
• Kristus mugi mikawelas ka abdi sadaya
• Gusti mugi mikawelas ka abdi sadaya
Mugi Gusti Allah, nu Mahaluhung tur Mulya maparin tempat ka abdi sadaya dina salametan suci di Sawarga. Hamin

Saparantos tuang

Nun Allah nu Mahakawasa, abdi sadaya muji syukur tina samudaya kamirahan Gusti, anu jumeneng sareng nyakrawati, ayeuna sareng kanggo salalamina langgeng. Hamin
• Gusti mugi mikawelas ka abdi sadaya
• Kristus mugi mikawelas ka abdi sadaya
• Gusti mugi mikawelas ka abdi sadaya
Mugi jiwa-jiwa jalmi anu ariman tiasa rereb kalayan tengtrem jalaran kamirahan Gusti. Hamin

Tanggal 23 juli 2011
Buku doa dalam bahasa Sunda
Disalin oleh Fr. Wilhelmus Famati Hia, OSC

Ditulis dalam prayer | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Buku pada abad Gereja Perdana

Posted by famatihia pada 6 Mei 2011

Pada abad ini, Taurat menjadi sentral dalam kehidupan Yudaisme. Pada akhir abad kelima dan awal abad keenam para rabi mulai menuliskan warta lisan tersebut. Kitab suci dibacakan di bait Allah. Kitab suci tersebut sangat dihormati sehingga ada petugas yang dikhususkan untuk membacakan dan bukan hanya dihormati pada saat dibacakan tetapi disimpan. Bentuk teks yang mereka pelajari dulu tidak seperti sekarang ini yang telah menjadi sebuah buku. Dulu teks tersebut di tulis pada lembaran papirus atau kulit hewan, sisi lembaran papirus yang dieratkan, atau kulit hewan dijahit, untuk membuat sebuah gulungan yang dapat digulung.

Satu gulungan biasanya 25 atau 30 kaki panjangnya dan sepuluh inci tingginya. Membuka gulungan biasanya dari kanan ke kiri. Teks tersebut di simpan di sinagoga. Berbagai tulisan dalam perjanjian baru diklaim ada hubungan dengan perjanjian lama dalam kitab suci yahudi. Hubungan tersebut telah menunjukan bahwa kitab perjanjian lama berkaitan dengan Yesus. Surat-surat Paulus dalam tradisi kristen yang dulu hanya ditujukan kepada komunitas tertentu atau orang tertentu kini telah menjadi tradisi yang dilakukan terus-menerus dalam Gereja. Sebagai bentuk dorongan iman.

Periode abad ke dua dan ke tiga (100-313)

Pada masa ini, orang kristiani berupaya membuat buku agar liturgi Gereja dapat lancar dan lebih sistematis. Pada masa ini sekurang-kurangnya sudah ada usaha untuk memasukan bentuk-bentuk musik kedalam buku liturgi. Pada akhir abad ke dua kanon muratori hilang. Pada awalnya ada lebih dari 27 kitab yang termasuk dalam perjanjian baru termasuk 4 injil dan tiga belas surat rasul Paulus dan ada surat-surat lain yang juga ditambahkan. Tetapi beberapa buku dianggap apokrip sehingga yang termasuk dalam kanon hanya 27 kitab. Pada awal abad ke tiga mulai ada yang dikhususkan bertugas untuk merawat dan memelihara kitab suci.
muratori

Pada awal abad ke dua muncul buku yang di namakan Didache buku tersebut dimengerti sebagai sebuah pengajaran dari Tuhan melalui dua belas rasul. Buku tersebut juga berisi petunjuk, dan peraturan serta informasi tentang puasa, pembabtisan dan doa-doa dalam liturgi ekaristi. Berikutnya muncul Apostolorum Didascalian buku ini berisi pengajaran para rasul terhadap agama katolik dan mereka itu disebut sebagai murid-murid suci. Kedua buku itu yaitu Didache dan Apostolorum Didascalia hanyalah merupakan contoh buku pedoman, panduan dan perintah Gereja yang beredar di seluruh Gereja awal. Meskipun ada panduan namun tetap ada improvisasi sesuai pola yang berlaku dalam masyarakat.

Abad ke empat

Bentuk dasar dari semua buku-buku adalah gulungan. Muncul bukti pada abad keempat bahwa ada bentuk buku lain selama abad kedua yang akan menjadi universal, yakni naskah kuno. Naskah kuno tersebut dari papirus berupa kulit binatang yang dijahit sambung-menyambung sehingga mudah digulung sedemikian rupa dalam sebuah kemasan.
Sebuah naskah kuno juga terbuat dari lembaran papirus atau kulit hewan, tetapi itu diikat bersama di satu sisi sehingga satu lembar informasi dapat lebih mudah tersingkap. Tidak diketahui apakah naskah kuno itu berasal dari kekristenan, namun dari abad kedua dan ketiga sebagian besar naskah Kristen adalah codex. Pada abad kelima yudaisme menggunakan codex dengan banyak tujuan.

Periode sesudah Konstantinus

Setelah zaman konstantinian liturgi menjadi lebih kompleks. Penghayatan umat kristiani terhadap liturgi Gereja sangat dipengaruhi oleh etiket kekaisaran. Melalui pengaruh pepaduan tersebut akhirnya banyak buku-buku baru yang diterbitkan. Contoh-contoh buku tersebut adalah buku doa, bacaan liturgi dan nyanyian atau lagu, sehingga pada zaman ini mulai diusahakan agar musik bisa dimasukan dalam buku nyanyian tersebut. Pada zaman ini menurut laporan Konstantinus ada lima puluh orang yang bertugas menyusun naskah dari kitab untuk digunakan dalam liturgi.
Awalnya, bacaan-bacaan yang diwartakan/dibacakan merupakan naskah alkitab kuno yang lengkap. Catatan kecil atau buku daftar yang disebut “capitular” (capitularia) memuat bagian-bagian yang menjadi bacaan di dalam liturgi. Buku-buku injil (pewartaan) dan surat-surat muncul pada abad pertengahan. Dibuat juga kalender untuk mengetahui pesta atau perayaan martir atau santo/santa setiap tahun. Gerak dalam liturgi juga dipraktekkan misalnya setelah injil dibaca oleh imam lalu dicium sebagai tanda penghormatan.

Vellum dan Parchment menjadi material. Ini lebih baik dibanding Papirus, untuk menulis dan juga ilustrasi dan iluminasi. Buku iluminasi awal tentang Injil mulai abad enam belas. Disamping sejumlah buku yang bertahan hingga sekarang, bermacam-macam mosaic dari periode ini memperlihatkan naskah-naskah kuno yang dimiliki Gereja. Selama periode ini, buku-buku liturgi menjadi pemberian sebagai hadiah yang berharga. Periode sesudah Konstantin mulai muncul berbagai improvisasi doa dan tercatat bahwa sampai memasuki abad ke empat yang memimpin ibadat adalah hanya Uskup. Pada abad ini juga diadakan sinode Hippo, menggarisbawahi tentang doa dalam liturgi harus diteliti agar tidak lari dari iman kristiani sebab melalui doa-doa itu, kita semakin terarah kepad Allah.

Munculnya rintisan Prancis-Jerman (750-1037)

Pada tahap periode ini, buku-buku liturgi disatukan menjadi satu volume (potongan tulisan yang digabungkan menjadi satu). Buku-buku-buku disusun dalam bentuk baru dalam bahasa latin, mulai disebarluaskan melalui para paus. Para paus mulai doa-doa khususnya oleh Paus Leo Agung dan Gelasius I. Buku-buku yang beredar saat itu adalah : Antiphonary (buku yang berisi antifon dan biasa dipakai dalam misa), Bible (kitab suci), Gospel book (buku ajaran), Epistle book (buku surat), Lectionary (bacaan misa), Calenderiology (penanggalan atau kalender liturgy), Sacramentary (buku yang berisi doa), Pontifikat (untuk para uskup).

Dalam periode ini salah satu buku yang dihilangkan adalah Libelli Missarum. Dihilangkan karena telah ada buku Lectionary dan sacramentary. Gregorius Agung mengumpulkan doa-doa liturgi. Pengganti Paus Gregorius agung menetapkan cara bagaimana perayaan ekaristi harus dirayakan dan sakramen-sakramen harus dilayani. Sumbangan rintisan Prancis-Jerman tersebut telah menyelamatkan dan memperkaya liturgy Roma.

Periode abad pertengahan

Pada awal abad pertengahan, mulai dibuat suatu penggabungan terhadap buku-buku liturgi untuk memudahkan kelancaran dalam misa kudus. Hal ini dijadikan satu volume agar uskup bisa menggunakannya. Oleh karena itu usaha pada abad pertengahan adalah membuat beberapa eksemplar buku-buku liturgi sehingga dapat dengan mudah pelaksanaan misa. Lebih dari itu, pada masa ini, dibuat buku-buku devosi untuk pribadi dan bahkan ada umat yang ingin memiliki buku devosi tersebut, pelaksanaannya juga diatur dalam kalender liturgi sesuai dengan hari pengenangan orang kudus.

Awal Reformasi

Melalui perkembangan yang dihasilkan oleh Gutenberg memberi dukungan yang mendasar terhadap penyebarluasan alkitab. Maka secara tidak langsung hal demikian telah memberi kontribusi terhadap pertumbuhan iman kristiani lebih khusus yang mengerti bahasa latin. Meski terlibat dalam percetakan surat indulgensi pada masa-masa berikutnya, ciptaan Gutenberg sangat berperan dalam Reformasi. Bahan-bahan seperti traktat, pamflet, khotbah, maupun Fligschriften yang ditulis oleh para reformator seperti Martin Luther, Martin Bucer, John Calvin, termasuk Ulrich Zwingli, dengan mudah dapat diperbanyak.

Mesin cetak ini dapat memungkinkan hasil salinan yang sama dengan salinan yang sama dengan aslinya. Mulai dari Gutenberg inilah muncul era keseragaman. Pada abad ke XVII dan XVIII buku-buku berkembang secara signifikan. Banyak buku yang diterbitkan untuk kepentingan Gereja. Hal ini telah menunjukan adanya perkembangan disegala bidang kehidupan manusia sekaligus menunjukan kompleksitas ritual keagamaan.

Buku Gereja Katolik Roma.

Reformasi buku-buku liturgi Roma sudah terdengar jauh sebelum reformasi Protestan. Pada abad ke 15 Nicholas Cusa, Uskup Brixen memerintahkan buku misa di semua keuskupan berada dalam keseragaman dan disesuaikan dengan satu model. Pada awal abad ke 16 keseragaman buku tidak hanya diserukan kepada satu keuskupan saja melainkan keseragaman buku-buku dalam Gereja latin. Konsili Trente memuat sesuatu keputusan bahwa buku penerbitan buku tentang Gereja harus dengan izin dari Gereja sendiri.

Buku liturgi sebelum Vatikan

Pada zaman ini mulai ada perubahan dalam buku liturgi Roma. Salah satunya adalah pengurangan jumlah mazmur dari dua belas menjadi sembilan. James white telah mendokumentasikan berbagai perubahan, pada awal abad ke dua puluh adalah saat Gereja Protestan menerbitkan banyak buku liturgi.
Berbagai Gereja Lutheran di Amerika serikat membuat berbagai macam kombinasi madah dan buku-buku doa, yang pertama diproduksi dalam bahasa Inggris oleh John Cristopher kunze’s. Pada tahun 1917 diadakan sinode umum dengan menghasilkan ibadat tunggal dan madah. Sehingga terjadi pembentukan kelompok-kelompok Lutheran. Abad ke 20 Protestantisme Amerika menunjukkan bahwa buku-buku liturgi secara sederhana tidak hanya netral sebagai objek dalam liturgi melainkan diwujudkan sebagai keyakinan.

Buku liturgi setelah Vatikan II

Kitab diterjemahkan kedalam bahasa lokal. Ini disetujui oleh para uskup pada saat konferensi di Roma. Lalu banyak hal yang diterjemahkan dengan mengikuti budaya lokal. Hal tersebut memudahkan kaum beriman, dan tindakan tersebut atas dasar persetujuan para uskup dan dikonfirmasi oleh Roma. Hal serupa terjadi dalam Gereja Protestan adanya penyebarluasan buku-buku liturgi dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh umat setempat.

Kesimpulan

Buku-buku liturgi kuno merupakan tongkat estafet terbentuknya buku-buku liturgi dimasa kini. Kita harus menghargai buku-buku liturgi yang ada sekarang dan bersyukur karena kita bisa memahami dan mengerti apa isi buku tersebut berkat adanya penerjemah sehingga menguatkan iman dan kepercayaan kita kepada Allah. Marilah kita mencintai buku-buku liturgi, membacanya, menghormatinya, dan juga mempraktekkannya dalam kehidupan kita.

Wilhelmus Famati Hia

Ditulis dalam liturgi | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Keraguan dan obyek metafisika

Posted by famatihia pada 6 Mei 2011

Keraguan atas metafisika

Peranan metafisika sering diragukan oleh alira-aliran filsafa seperti :
Skeptisisme mempunyai keraguan atas kemampuan kognitif manusia. Paham ini tidak percaya bahwa manusia mampu sampai ke abstraksi yang begitu jauh. Empirisme dan Positivisme meruduksikan pengetahuan manusia pada pengetahuan inderawi belaka. pengetahuan di luar pengetahuan inderawi sulit diterima sebagai pengetahuan yang sahih.
Materialisme meruduksikan realitas pada tatanan materi. Filsafat Analitas atau filsafat bahasa, khususnya dari kelompok positivisme logis, menolak ungkapan metafisika sebagai ungkapan yang berarti atau bermakna. Rudolf Canap mengatakan bahwa seorang metafisikus ibarat seorang musikus, yang pandai memainkan instrumen tetapi tidak mempunyai bakat musikal.

Menjawab keraguan itu (termasuk keraguan mengenai peranan metafisika) dua hal yang dapat diangkat sebagai berikut:
Pertama,bila metafisika ditolak keberadaanya, semua cabang filsafat mesti ditolak, karena setiap cabang filsafat memuat unsur metafisika , tetapi dilihat dari bidang tertentu. Misalnya filsafat manusia dan filsafat alam. Filsafat manusia, igin merefleksikan segi-segi yang terdalam dari manusia yang konkret. Filsafat alam merefleksikan secara mendasar kenyataan alam yang bersifat fisik. Itu berarti filsafat alam tidak berhenti pada kenyataan fisik saja, tetapi perlu mencari hal yang ada dibelakang yang fisik itu. Jadi, masalah metafisika merupakan inti dari semua cabang filsafat.

Kedua, dilihat dari kebutuhan manusia sebagai makhluk rasional, metafisika merupakan jawababan sistematis paling dalam dari kehausan intelektual manusia. Mengetahui tidak lain berusaha menyatukan kenyataan konkret yang beraneka macam. Pada akhirnya orang igin mencapai prinsip yang paling dasar yang mampu menyatukan semua hal dalam satu sistem. metafisika merupakan usaha sistematis mencapai prinsip-prinsip yang paling umum dan paling dalam itu. Keberadaan metafisika sebagai ilmu tidakdapat ditolak. Rumusan yang sistematis dari metafisika tidak lain mengukuhkan bahwa manusia adalah makhluk rasional dan sekaligus seorang “filsuf”.

Obyek Metafisika

Pengalaman dan metafisika

pengalaman merupakan ibu setiap ilmu, termassuk metafisika. Untuk bisa bermetafisika, orang harus bergaul dengan pengalaman, karena metafisika tetap merupakan sebuah bentuk pengetahuan manusia. Pengalaman manusia mempunyai dua segi : segi subyektif dan obyektif. Pengalaman dilihat dari segi obyektif ialah pengalaman yang dapat disentuh, diindera. Saya mengalami yang lain melalui inderaku. Tetapi tidak ada pengalaman yang hanya obyektif saja tanpa segi subyektif.
metafisika, sebagai ilmudan kegiatan refleksif, merupakan sebuah bentuk penyadaran diri.

Dalam pertemuan dengan yang diindera, saya sebagai subyek sadar akan aktivitas saya. saya sadar bahwa saya menangkap yang ada, yang real. Munculnya kesadaran ini terjadi bila subyek menyadarinya, karena tanpa kesadaran yang biasanya refleksif, orang tidak akan menyadari bahwa pengalaman inderawiku merupakan pengalaman diri yang beraktivitas. Dengan menyadari obyek, saya menyadari diriku. saya sadar akan realitasku sendiri. Obyek ada sebagai fakta. maksudnya saya melihat sesuatu ada, tetapi saya sama sekali tidak mempengaruhi adanya di hadapan saya. Dalam arti tertentu, saya sebagai subyek bersifat subyek.

Di bawah ini dijelaskan tiga ciri khas yang terdapat pada obyek, yakni :
Sebagai fakta, sesuatu itu hadir sebagai yang ada dan saya tidak tahu mengapa ada di hadapan saya. kehadirannya sulit ditebak atau di luar rencana saja. Ini merupakan fakta yang berada di luar rencana saya. jadi di sini tidak perlu kita melihat kehadiran sesuatu itu, kecuali mengafirmasikannya itu ada. Sebagai sesuatu yang kompleks, sesuatu itu datang dengan berbagai macam segi, aneka bentuk dan kehadirannya tidak dapat disangkal, dan mesti diterima begitu saja. Itu sebuah kemestian karena tidak tergantung pada kemauan saya dan saya tidak diberi kesempatan untuk mengelaknya. Sebagai sesuatu yang tidak stabil (dinamis),sesuatu itu selalu berubah terus-menerus, sesuatu itu sulit dipegang, selalu lepas, karena mengalami perubahan. Sesuatu yang ada sebagai fakta itu selalu dalam proses “menjadi”.

Obyek material dan fomal metafisika

Perbedaan antara obyek material metafiska dan obyek formal metafisika adalah sebagai berikut :

Obyek material metafisika.

Obyek material metafisika, ialah : yang ada, dalam arti semua realitas, atau apa saja yang berada. Yang ada tetap bersifat aktual, bereksistensi, universal karena menyangkut seluruh realitas.

Obyek formal metafisika.

Obyek formal metafisika, adalah : ada sebagaimana adanya. Seluruh realitas yang mau dilihat dari segi metafisika ialah ada sebagaimana adanya.

Metafisika dan pengetahuan biasa

Untuk menggarisbawahi obyek formal metafisika, kita perlu membedakan metafisika dari pengetahuan biasa. Pengetahuan biasa menyangkut masalah yang-ada. Kita memang mengetahui sesuatu (yang-ada) tetapi kita tidak bertemu dengan yang-ada dari benda-benda itu. Kita berhubung dengan ekstensi, raga, wujud dan bukan yang-ada sendiri dalam benda-benda itu.

Terdapat beberapa perbedaan antara pengetahuan biasa dan metafisika yakni :
Dalam pengetahuan biasakita mengenal yang ada dan menerima saja keberadaannya. Justru metafisika mencari struktur dasar dari yang ada, prinsip-prinsip dasar yang memperjelas keberadaan itu. Pengetahuan biasa yang ada sebagian besar terbatas pada hal-hal yang partikular. Tetap pada keanekaan bentuk pengetahuan. tetapi metafisika mempertanyakan dan menyelidiki unsur pemersatu di dalamnya. Juga mencari tahu sifat unuversal dari semua, yakni bagaimana yang ada menjadi sama untuk semua. Pengetahuan biasa mengenai yang ada terbatas pada keberadaan yang empiris. Memikirkannya dalam hubungan dengan benda-benda material, dan jasmani. Akan tetapi metafisika menarik dari pengalaman langsung itu segi yang ada saja.

Metafisika dan ilmu pengetahuan yang partikular

Guna mempertajam pemahaman mengenai obyek formal metafisika perlu dibandingkan metafisika dengan ilmu pengetahuan yang berkutat dengan bagian-bagian tertentu realitas atau, menurut Thomas Aquinas, ilmu pengetahuan partikular.

Untuk lebih jelas marilah kita lihat beberapa bagian di bawah ini :

Perbedaan metafisika dan ilmu pengetahuan adalah terletak pada obyek formalnya. Obyek formal metafisika adalah realitas sebagai realitas. Sedangkan ilmu pengetahuan menyangkut sebagian dari realitas. Metafisika mempunyai obyek formal tersendiri karena itu merupakan sebuah ilmu otonom. Melihat semuanya secara universal yakni yang ada pada semua hal. Jadi metafisika merupakan scientia universal (ilmu universal). Metafisika berkutat dengan yang ada sebagai yang ada. Metafisika meneliti yang ada sehubungan dengan sebab-sebab yang terdalam dan universal. Metafisika kedudukannya sebagai ilmu pengetahuan yang tinggi. Metafisika lebih bercorak kebijaksanaan dari pada ilmu.

Metafisika dan cabang-cabang filsafat

Cabang filsafat berdiri sendiri dan tidak terlepas dari metafisika maksudnya obyek formalnya sendiri. Metafisika disebut ratu ilmu pengetahuan karena dia yang utama (maksudnya metafisika) baru yang lainnya seperti cabang-cabangnya dan sekaligus ilmu filsafat yang pertama sedangkan, cabang-cabangnya berada di bawah metafisika itu sendiri.

Hubungan metafisika dengan filsafat lainnya dapat kita lihat di bawah ini :
Filsafat alam, dalam filsafat alam ini yang paling mendasar adalah dunia material. Ilmu ini berkutat pula dengan masalah sebab dari gerak, hakikat ruang dan waktu. Filsafat manusia, merupakan ilmu yang berkecimpung dengan asal-usul mansia, (kebiasaan dan kemampauan).
Teori pengetahuan (Epistemologi), ilmu yang mempertahankan realisme filosofis melawan serangan kaum skeptik, agnostik, positivistik dan idealis. Filsafat moral, prinsip-prinsip tingkah laku manusia yang mengarahkan tindakan pada tujuan akhir. Teologi natural, bergulat dengan eksistensi Allah dan kodrat-Nya. Cabang filsafat yang sangat khusus, membahas segi metafisika dari, tetap dalam kaitan dengan metafisika. Logika, berkutat pada teknik berpikir lurus dan benar, tetapi tidak mengenai kebenaran dalam dirinya-sendiri.

Wilhelmus Famati Hia

Ditulis dalam Filsafat | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Film Jean of arc

Posted by famatihia pada 6 Mei 2011

Jean sewaktu kecil pernah melihat penampakan “dimana dia bertemu dengan Allah”. Dia termasuk anak yang soleh, dan paling tidak sekali sebulan mengaku dosa. Pengalaman tragis pun pernah ia alami saat masih kecil yang membawanya pada trauma psikis. Bagaimana tidak, kakaknya dibunuh dan diperkosa didepan matanya sendiri oleh lelaki berkebangsaan Inggris. Akibatnya, Jean menjadi benci dan dendam kepada orang-orang Inggris. Ketika dia besar datang kepada putra bungsu seorang Raja Charles dan mengatakan bahwa dia adalah utusan Allah untuk menyelamatkan negara Perancis dari tangan Inggris.

Dia menceritakan apa yang dia lihat dan apa yang dia alami tentang Tuhan. Dari ceritanya itu akhirnya putra bungsu memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan mukjizat. Misi Jean tercapai dimana Perancis menang atas Inggris, dia menjadi pemimpin perang, dia seperti lelaki yang gagah perkasa mempunyai keberanian yang kuat. Pertumpahan darah tidak bisa dikendalikan lagi sehingga banyak memakan korban. Namun kesaksian Jean melihat Tuhan dipertanyakan karena pengalaman itu terlalu misterius.

akhirnya orang pada tidak percaya lagi kepadanya karena penampakan yang dialaminya tidak bisa dibuktikan secara nyata lewat mujizat malah dia dianggap penyihir. Emang secara rasio penglihatan yang dialaminya sulit diterima dan kurang masuk akal. Jean sangat manusiswi. Ia datang dari desa terpencil dan menjadi terkenal sewaktu ia baru saja melepas masa kanak-kanaknya dan ia melakukan itu dengan status sebagai golongan petani yang tak berpendidikan. Raja-raja Perancis dan Inggris membuat pembenaran terhadap perang yang terjadi melalui perang interpretasi terhadap hukum Salic yang telah berumur ribuan tahun.

Konflik yang terjadi adalah sengketa waris antara kedua monarki. Jeanne memberikan arti pada ketulusan, sehingga Jean de Metz berucap, “Haruskah raja diusir dari kerajaan; dan kita menjadi orang Inggris?” Meminjam kata-kata Stephen Richey, “Ia mengubah apa yang tadinya hanyalah sengketa antar dinasti yang membuat rakyat jelata tak tergerak, kecuali untuk kesengsaraan mereka sendiri, menjadi suatu perjuangan populer yang penuh semangat demi pembebasan negeri.”

Richey juga menggambarkan:”Orang-orang yang yang datang lima abad setelah kematiannya berupaya untuk memberi segala macam cap pada dirinya: pengikut iblis, penyihir, boneka kekuasaan yang lugu dan tragis, pencipta dan simbol nasionalisme modern, pahlawan yang dicintai, orang suci. Ia bersiteguh, bahkan sewaktu diancam dengan siksaan dan dihadapkan pada kematian dengan dibakar, bahwa ia dibimbing oleh suara Tuhan. Benar atau tidak, apa yang dicapainya telah membuat siapapun yang mengetahui kisahnya akan menggelengkan kepala dengan penuh kekaguman.”Jeanne menjadi simbol Liga Katolik pada abad ke-16.

Félix Dupanloup, uskup Orléans dari 1849 sampai 1878, memimpin suatu upaya yang berujung pada beatifikasi Jeanne pada 1909. Kanonisasi terhadap dirinya dilakukan pada 16 Mei 1920. Ia menjadi salah satu santa paling populer di gereja Katolik Roma.
Jeanne d’Arc bukanlan feminis. Ia bertindak dalam lingkup tradisi keagamaan yang mempercayai bahwa orang terpilih dari strata sosial manapun dapat memperoleh panggilan rohani. Ia mengusir perempuan dari tentara Perancis dan mungkin saja telah memukul seorang pengikut yang keras kepala dengan pedang. Walaupun demikian, beberapa penolong utama terhadapnya berasal dari perempuan. Ibu mertua Charles VII, Yolande dari Aragon, mengkonfirmasikan keperawanan Jeanne dan membiayai keberangkatannya ke Orléans.

Joan dari Luxemburg, bibi dari Count dari Luxemburg yang menahan Jeanne di Compiègne, memperbaiki kondisi penahanannya dan kemungkinan telah menunda penjualannya ke Inggris. Terakhir, Anne dari Burgundi, istri dari wali Inggris, menyatakan bahwa Jeanne adalah seorang perawan sewaktu sidang pendahuluannya. Secara teknis, hal ini menghalangi pengadilan untuk menuduh Jeanne sebagai penyihir. Hal ini sedikit banyak kemudian juga menjadi dasar bagi pembersihan nama dan pengangkatan Jeanne menjadi santa. Kaum perempuan melihat Jeanne sebagai contoh positif perempuan yang keberanian dan keaktifan perempuan.

Film kontroversial ini mengangkat pandangan tentang kemungkinan historis adanya seorang perempuan sebagai kelengahan dari otoritas tradisi Gereja Katolik di mana hierarki adalah privilese pria. Sebagai suatu bentuk karya seni memang mengesankan bahwa ada pandangan bahwa kehadiran perempuan pun bisa menjadi penyalur rahmat Ilahi dan bisa memimpin dengan hati baik dan kebijaksanaan. Di sana dikisahkan sang perempuan secara meyakinkan lewat pengalaman perjalanan hidupnya yang pahit seolah-olah dipilih dan diutus Allah untuk menyamar menjadi pria dan masuk ke dalam lingkungan pejabat Gerejawi yang diwarnai skandal perebutan kekuasaan. Sang perempuan sepertinya begitu saja dikondisikan oleh Allah menjadi pahlawan kebenaran dan menjadi pemimpin tertinggi yang saleh.

Suatu kritik terhadap tradisi Gereja Katolik akhirnya digambarkan dengan memperlihatkan bahwa perempuan yang diutus Allah ini ternyata juga secara manusiawi mengalami cinta yang luhur. Kemudian digambarkan secara dramatis bagaimana tradisi memaksa seseorang harus terus berbohong dan menyangkal kodrat cinta manusiawinya. Perempuan ini digambarkan rela wafat dengan mengenaskan demi menjaga cintanya yang harus berujung pada kematian karena legalisme tradisi yang kaku ini menimbulkan politik kotor dalam Gereja. Di sini tradisi yang telah dipelihara Gereja dianggap pemasungan atas hak asasi manusia akan pentingnya cinta dalam relasi pria-wanita, suatu pembangkangan moral yang sistemik.

Serangan yang juga nampak jelas ialah pada narasi penutup kisah. Di dalam cerita secara eksplisit diasumsikan secara meyakinkan bahwa dalam kalangan pejabat Gereja ada niat keji. Semua kenyataan yang memalukan itu hendak ditutupi dengan penutupan berkas kasus dan menampilkan propaganda kesucian dalam Gereja. Jadi, seakan-akan Gereja hanyalah pembohong yang dikuasai hasrat manusiawi belaka tanpa melihat sisi lain, Gereja sebagai bentuk kehadiran Allah yang kebenarannya dijamin oleh Roh Kudus.

Melalui film ini banyak argumentasi yang diajukan untuk menyerang Gereja lewat celah-celah data historis dalam sejarah gereja. Sekilas tampak demikian meyakinkan tetapi seakan-akan sedemikian naifnya organisasi yang kuat ini disusupi kelengahan-kelengahan yang demikian. Celah-celah historis yang kabur coba dibetot sedemikian rupa agar tercipta suatu sejarah baru yang diajukan sebagai kebenaran. Hal yang perlu dicermati ialah pentingnya pembuktian dan kesaksian yang lebih komprehensif dan terbuka tentang serangan yang diajukan itu. Di sini sepertinya tidak ada bukti yang jelas dapat dipertanggungjawabkan dan terpercaya untuk mengokohkan argumentasi pencerita. Di sisi lain Gereja yang sadar bahwa tradisi ini memiliki warisan yang jelas ortodoks dan bernilai Ilahi tidaklah akan kalah dengan serangan seperti ini sebab ada keimanan bahwa Allah hadir dalam proses perjalanan Gereja sampai akhir zaman.

Oleh Wilhelmus Famati Hia

Ditulis dalam Film | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »

KEBENARAN DALAM PENGHAYATAN

Posted by famatihia pada 6 Mei 2011

Kebenaran dan Penghayatan

Dalam “fenomenologi pengetahuan”, kita membiarkan diri kenyataan menyatakan diri. Pengetahuan indrawi dan rohani berbeda, namun tidak pernah terpisah. Pengetahuan sampai pada puncaknya yakni keputusan. Keputusan bisa benar, bisa salah. Dalam diri manusia, ada hasrat untuk menuju kebenaran. Apakah pengetahuan disebut benar? Kecuali kalau sesuai dengan kenyataan. Salah satu yang muncul dalam fenomenologi pengetahuan di atas ialah perbedaan di antara penghayatan dan pengetahuan ilmiah. Dalam penghayatan, seluruh eksistensi ikut berperan, sedangkan dalam ilmu ratio lebih dominan. Manusia melihat dengan hati. Melihat dengan hati tidak sama dengan ”irasional”. Pascal mengatakan bahwa hati has its reasons (punyai akal-akalnya) yang tidak diketahui oleh reason (ratio). Akan tetapi, penghayatan bukan ilmu. Bagaimana hubungan hati dan akal? Ada pertentangan antara pengetahuan yang bersifat ilmiah. Masalahnya sekarang adalah apa yang membuat kita sampai pada kebenaran.

Hidup dan Rasio

Kata”penghayatan” secara etimologis berhubungan dengan ”hayat”. Pertentangan yang sering muncul adalah pertentangan antara hidup dan ilmu. Filsafat terlalu jauh dari ”hidup” akan menjadi filsafat yang mengambang dan tidak mendarat. Filsafat menjadi permainan kata-kata dengan pengertian yang kosong dan tidak kena di hati. Dalam hal ini ada dua ekstrem yang harus dihindari.

Kadang-kadang muncul pendapat yang mendevaluasi ilmu. Pascal misalnya menolak ”Allah kaum filsuf” dan memilih ”Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Hal ini merupakan reaksi terhadap filsafat yang terlalu jauh dari penghayatan. Dalam filsafat dan teologi pun argumentasi ilmiah dan rasional sebagai jalan menuju kebenaran kadang-kadang lebih diutamakan daripada pengalaman hidup. Filsafat atau teologi seperti itu tidak menyentuh hati. Pertentangan antara penghayatan dan ilmu kadang terungkap dalam pertanyaan yang menantang. ”Siapakah yang lebih tahu tentang Allah: orang yang menghayati Allah dalam hidup doa dan pengalaman hidup ataukah seorang filsuf yang mengetahui segala argumen untuk membuktikan keberadaan Allah? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang selalu mencari bukti sesuatu serta mengukurnya. Misalnya untuk mencari tahu apa itu air, jangan mencarinya dalam ilmu kimia yang merumuskan air adalah H2O. Tapi terjunlah kedalam danau. Dan masih banyak contoh lainnya. Jadi ilmu dan penghayatan sama sekali tidak bertentangan namun saling membutuhkan antara keduanya, saling memperkaya dalam mencapai tujuan yang sama.

Penghayatan dan Refleksi Ilmiah

Penghayatan dan refleksi ilmiah adalah dua bentuk berpikir yang berbeda. Penghayatan merupakan cara berpikir yang berjalan terus. Refleksi ilmiah diadakan dengan sengaja dan terarah. Dalam penghayatan, lahir keyakinan-keyakinan dan dalam refleksi ilmiah, dasar keyakinan itu diperjelas. Dua bentuk berpikir itu berbeda, namun saling membutuhkan satu sama lain.
Ada dua cara berpikir yakni :
• Penghayatan.
• Refleksi ilmiah.
Jenis berpikir yang pertama disebut Walgrave sebagai berpikir menghayati. Jenis berpikir yang kedua adalah ”berpikir merenung” (metodis refleksi). Kedua cara berpikir ini sama-sama membentuk hidup kesadaran manusia yang terarah kepada tujuan yang sama. Meskipun kedua bentuk berpikir itu berbeda satu sama lain, tetapi saling membutuhkan dan tidak bisa dipisahkan. Jika ilmu dilepaskan dari penghayatan, muncullah rasionalisme. Rasionalisme muncul karena ilmu dan ratio mengasingkan diri dari hidup. Ilmu tidak boleh lepas dari hidup. Ilmu haruslah ilmu yakni rasional, analitis, metodis, sistematis, dan kritis. Dengan refleksi ilmiah, diperoleh penjelasan yang tidak dimiliki oleh penghayatan. Jadi, dua bentuk berpikir itu tidak boleh lepas satu sama lain.

Berpikir Menghayati
Cara berpikir menghayati kita ketahui dari pengalaman hidup sehari-hari. Kita berpikir bukan hanya saat duduk dikursi untuk memecahkan suatu soal. Kita berpikir setiap saat dan terus – menerus. Ketika kita melihat sesuatu membuat kita semakin mengetahui sesuatu itu dengan merenungkannya. Berpikir menghayati ini tidak dapat dipaksakan. Dia menempuh jalannya sendiri dalam daerah – pinggir – perhatianku yang setengah sadar dan tidak sadar. Pada saat-saat kritis, melonjaklah keyakinan-keyakinanku dengan terang dan jelas serta dengan kepastian pribadi yang teguh masuk ke dalam kesadaranku yang penuh.

Keyakinan Bertumbuh dalam Penghayatan

Arti sepenuhnya dari proses penghayatan baru kita mengerti bila kita memahami bahwa dalam penghayatanlah timbul dan bertumbuh keyakinan-keyakinan pribadi, bukan dalam berpikir cara ilmiah. Apa dasar keyakinanku akan kehadiran Tuhan dalam hidupku? Dasar keyakinan bukanlah hasil filsafat ketuhanan. keyakinan dasar tumbuh dalam pengalaman hidup. Allah yang saya hayati ialah Allah yang berkarya dan dirasakan hadir dalam dalam perjalanan hidup ”Abraham, Isak, dan Yakub. Keyakinan itu muncul saat sayabersru kepada Tuhan. Dasar keyakinanku adalah sikap cinta dan saling menghargai membuat dunia menjadi surga. Sedangkan kebencian dan penghinaan merupakan neraka.
Kalau betul keyakinan bertumbuh dalam pengalaman dan cara ”berpikir-menghayati”, timbul perlbagai pertanyaan. Manakah fungsi ilmu dan refleksi ilmiah? Fungsinya jelas, tetapi kebanyakan orang tidak sempat untuk menjalankan refleksi yang bersifat ilmiah. Jadi dengan orang bertanya ia lebih banyak merenung atau refleksi dalam penghayatan sehingga dia yakin itu benar atau tidak.

Fungsi Refleksi Ilmiah

Berpikir cara ilmu dan beraagumentasi menolong kita untuk memandang hubungan antar unsur-unsurnya serta untuk menjelaskan dasar keyakinan hati. Dengan demikian, keyakinan menjadi milik kita secara lebih sempurna.berpikir cara ilmiah dan berargumentasi dalam hal ini tidak dapat dilepaskan darai penghayatan religius. Penghayatan religius menaburkan benih yang menuju keyakinan yang berurat-berakar dalam jiwa kita. Kenyataan ini tidak mengurangi nilai dan pentingnya refleksi ilmiah, bahkan menerangkan hubungannya yang amat erat dengan penghayatan. Penghyatan dan refleksi ilmiah merupakan dua bentuk berpikir yang didorong oleh gerakan yang sama, yakni hasrat menuju kebenaran yang adalah hasrat autentik dalam diri manusia.

Distansi

Telah diterangkan bahwa dalam tiap pengetahuan hadir pengetahuan yang implisit, yaitu kehadiran pada diri sendiri. Berkat kehadiran pada diri sendiri, manusia mampu berdistansi terhadap diri dan terhadap penghayatannya. Karena distansi inilah, manusia mempunyai kebebasan terhadap penghayatannya. Berkat distansi tersebut, saya sebagai subjek mampu bertransendensi terhadap penghayatan. Penghayatan yang satu dapat saya bandingkan dengan penghayatan yang lain.

Menuju Kebenaran dalam Penghayatan

Kalau benar bahwa keyakinan-keyakinan kita bertumbuh dalam hidup penghayatan dan bukan pertama-tama hasil ilmu, timbul pertanyaan: Apakah yang menjamin tercapainya kebenaran dalam hidup penghayatan? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut terlebih dahulu harus dikatakan bahwa refleksi yang kritis tidak hanya terjadi di dalam ilmu. Dalam bentuk tertentu, refleksi telah hadir dalam penghayatan. Di pihak lain, jelaslah bahwa kekhasan hidup penghayatan ialah kurang kritis dan kurang refleksi terhadap diri sendiri.

Intelek: ”Lumen Naturale”

Jawaban atas pertanyaan apa yang menjamin manusia menuju kebenaran dalam penghayatan ialah kehadiran lumen (cahaya) dalam dialog manusia dengan kenyataan dunia. Tanpa lumen, kenyataan tinggal dalam kegelapan. Berkat kehadiran lumen, penghayatan berada dalam perjalanan menuju kebenaran. Ada begitu banyak pertanyaan muncul, tetapi keyakinan itu tidak goncang. Manusia yakin akan kehadiran budi sebagai lumen dalam penghayatan. Lumen dalam segala pengalaman baik itu pengalaman yang manis maupun pengalaman yang pahit.

Sikap Dasar Kehendak Menuju Kebenaran

Kodrat manusia sebagai ”cayaha” membuat kenyataan terbuka bagi manusia. Berkat ”keterbukaan” ini, penghayatan pada hakikatnya objektif dan benar. Penghayatan dapat dipercayai. ”Cahaya” hadir dalam penghayatan dan memastikan bahwa penghayatan menuju kebenaran. Lumen adalah kodrat kita dan hadir di dalam diri kita yang sedang menuju kebenaran. Biarpun demikian, ada faktor-faktor lain yang ikut mempengaruhi. Ada itu budi dan kehendak serta kecongkakan dan cinta.

Penghayatan sebagai Jalan Utuh Menuju Kebenaran

Kita mengakui penghayatan sebagai jalan utuh menuju kebenaran dan kepastian. Kebenaran objektif bukanlah monopoli ilmu. Seorang ibu yang suci mungkin lebih tahu tentang Tuhan daripada seorang ahli Filsafat Ketuhanan. Seorang pelaut atau pelayar mungkin lebih tahu tentang laut dari pada seorang ahli kelautan. Jadi kebenaran itu tidak didasarkan pada bidangnya tapi pada kebenaran yang sesungguhnya.

Wilhelmus Famati Hia

Ditulis dalam Filsafat | Bertanda: , | Tinggalkan sebuah Komentar »